30 November 2010

An old ipod

Ipod tua saya ini sudah berusia kurang lebih 3tahun. Mungkin masih dibilang belum terlalu tua. Tapi ipod tua ini memiliki banyak sejarah sepanjang hidupnya. That's why saya sebut sebagai ipod tua.

Ipod ini saya beli di tahun 2007. Di saat saya masih terbilang maba (mahasiswa baru,Red.) dan setelah ibu saya tiada. Seandainya ibu saya tahu saya membeli ipod ini, pasti saya bakal kenal omelan beliau. Hehe. :)
Kemanapun saya pergi, saya selalu membawa ipod tua ini. Selalu saya dengarkan dimana pun juga. Bahkan ketika sedang mengendarai sepeda motor (jangan ditiru: bahaya!). Sampai-sampai saking asiknya, saya tersesat di jalan asing dan panik. Hahaha!

Ketika saya baru mendapatkan ipod ini, saya isi sebanyak-banyaknya lagu-lagu favorit saya. Dan selalu saya update setiap mendapat lagu baru. Tetapi, ketika kegiatan kuliah saya semakin membabi buta, ipod ini terlupakan. Saya sudah tidak pernah meng-update lagi. Saya pun jarang menggunakannya. Saya taruh di lemari. Terabaikan.
Saya baru sadar untuk mendengarkannya lagi beberapa bulan yang lalu. Dan ketika saya dengarkan lagi, saya baru ngeh kalau playlist saya belum pernah di update sejak tahun 2008. Menyedihkan. Pantas sajaa, lagu-lagunya lagu lawas semua. Tapi tak apalah, bisa menjadi bahan nostalgia masa maba. Hehehe..

Sekarang ipod tua ini aktif kembali. Selalu saya bawa di dalam tas. Walaupun umurnya tidak sepanjang dulu lagi (gampang ngedrop), tapi masih bisa digunakan untuk menemani saya mengerjakan tugas. aheee.. :D

si ipod tua dan si leptop item saya


Playlist yang masuk ke Top 25 Most Played saya:

1. Sweetheart by Tiger Baby

2. Balerina by Efek Rumah Kaca

3. Life Effect by Stars

4. Accidentally in Love by Counting Crows

5. The Call by Regina Spektor

6. Coba Katakan by Maliq & d'Essentials

7. Heart by Stars

8. Love Song Ost. 50 First Date

9. The Scientist by Coldplay

10. Rise & shine by The Cardigans

11. Pergi Tanpa Pesan by Sore

12. I Think I by Byul

13. Shut Up and Let Me Go by The Ting Tings

14. Dilla by JaneDonna

15. Love in December by Club 8

16. The Mommy Song by Hi Mom

17. Nyala by Pure Saturday

18. If You're Not The One by Daniel Bedingfield

19. Tears for affairs by Camera Obscura

20. Love Letter To Japan by The Birds and The Bee

21. One day in your live by Michael Jackson

22. Sabda Alam by White Shoes & The Couples Company

23. Strawberry Swing by Coldplay

24.My Love by The Birds and The Bee

25. Do What You Wanna Do by Mocca

25 November 2010

T.R.A.V.E.L.L.I.N.G


Beberapa hari yang lalu saya melihat obrolan di twitter dengan hashtag #WhyTravel.
Dari namanya saja sudah membuat saya tertarik. Travel, travelling. Dalam bahasan #WhyTravel ini adalah mengenai mengapa kita sangat menyukai travelling, mengapa sangat menyukai suatu perjaalan, apa alasan kita menyukainya, apa saja pengalaman yang paling mengena buat kita, and the bla bla.

Saya pingin ikutan menjawab #WhyTravel.
Awal pertama kalinya saya suka dengan travelling karena ayah saya. Ayah saya bekerja pada suatu perusahaan BUMN yang bergerak di bidang perkebunan. Mulai dari perkebunan teh, kopi, hingga coklat. Dan yang paling sering ayah saya ditempatkan adalah di perkebunan teh.
Itu mengapa saya sangat menyukai arsitektur kuno dan pegunungan. Perkebunan teh selalu berada di lereng pegunungan. Dan rata-rata rumah dinas yang kami tempati adalah rumah-rumah peninggalan jaman Belanda. Bisa dikatakan sejak saya lahir, saya sudah dikondisikan tinggal di pegunungan dan rumah kuno.

Oke balik lagi ke #WhyTravel. Perusahaan ayah saya selalu melakukan pemindahan pegawainya dari kebun satu ke kebun lain. Dan dari sanalah cikal bakal saya menyukai travelling. Dengan kondisi nomaden kami, menyebabkan saya harus belajar beradaptasi dengan lingkungan baru, dengan rumah kuno baru (YAY!), dengan sekolah baru, dengan teman baru, dan dengan hal-hal baru lainnya. Awalnya saya tidak menyukai situasi seperti ini. Karena ketika saya sudah mempunyai banyak teman di satu tempat, tiba-tiba situasi saya dihadapkan bahwa saya harus berpindah rumah lagi. Disaat itu usia saya sangat mempengaruhi kelabilan jiwa saya. Saat itu saya masih duduk di bangku SD dan saya masih labil (wajar anak kecil).

Tetapi, lama kelamaan saya mulai terbiasa. Saya merasa justru dengan berpindah-pindah ini, melakukan perjalanan panjang ini, saya mempunyai banyak teman, mempunyai pengalaman hidup, mempunyai cerita dan kenangan di setiap kota yang saya tinggali. Dan sejak saat itu saya sangat menyukai travelling. Menyukai sebuah perjalanan menuju kota atau tempat yang sebelumnya asing bagi saya. Dan yang paling saya sukai adalah di setiap sensasi melakukan travelling. Saya sangat sangat sangat terlalu excited jika akan melakukan sebuah perjalanan keluar kota. Dan saya sangat menyukai kegiatan ber-packing ria. Selalu saya bayangkan apa yang akan terjadi di sana, apa yang akan saya bawa, apa yang akan saya kenakan. Semuanya rinci. Haha. Sampai kawan-kawan saya hafal dengan kebiasaan saya saat akan melakukan travelling. Teman-teman saya baru packing malam sebelum keberangkatan, tetapi saya sudah packing sehari atau dua hari sebelumnya. HAHAHA!

Entahlah. Saya suka dengan sensasi di saat melakukan travelling. Kepanikan-kepanikan kecil saat akan berangkat, pengalaman-pengalaman lucu di dalamnya, dan yang terpenting perasaan excited yang terus ada di kepala saya. Rasanya ingin berteriak dan tertawa bahagia. Hehe. Maafkan saya jika perasaan saya terlalu berlebihan.

Travelling terkadang identik dengan backpacker. Saya ingin sekali merasakan backpacker-an. Sebab selama ini yang saya rasakan, travelling saya bukanlah sebuah travelling ala backpacker. Masih berupa wujud wisatawan domestik. Walaupun dengan usaha pengeluaran se-minim mungkin. Hehe. Backpacker adalah para penikmat travelling yang irit. Bagaimana caranya agar tetap dapat melakukan travelling dengan pengeluaran se-minim mungkin. That was so cool! Dan backpacker identik dengan tas ransel gunung yang mampu menampung semua barang. Saya sering melihat bule-bule seperti itu. Sangat menyenangkan!

Saya masih bisa dikatakan bukan sebagai seorang travelling sejati. Atau backpacker handal. Belum seperti itu. Kota-kota yang baru saya datangi masih bisa dihitung tangan. Tetapi walaupun begitu, saya memang sangat cinta dengan travelling. Saya mempunyai kota-kota impian yang ingin saya datangi. Seperti Semarang (dengan arsitektur kuno khas mereka), Jogja
(lagi dan untuk kesekian kalinya), Solo (karena saya sempat membaca blog seorang teman yang
menceritakan kota lama Solo), Bangka Belitung (dengan pantainya yang jernih sekali!), dan banyak tempat lainnya!
Saya ingin mengelilingi Indonesia. Baru setelah itu saya menjajal backpacker ke luar negeri. Saya ingin berkeliling Eropa. Terutama ke London, Belanda, dan Paris. Waoww! Impian saya memang. Apa salahnya bermimpi seperti itu. Who knows tiba-tiba saya bisa berangkat ke sana. Amiinn.. :D

Oke, mungkin cukup sekian dulu sharing tentang cerita saya.
Thx for read. See u again at another story! :)

20 November 2010

Selamat berjumpa kembali, Bandung! (Part 2)

Well, hari kedua di Bandung. Rombongan kamar saya lengkap sudah. Resti dan Uut capcus menuju penginapan setelah mereka tiba di stasiun. Selama menunggu mereka perjalanan menuju penginapan, saya dan tiza jalan-jalan pagi di sekitaran Dago. Disana ada icon Bandung yang katanya klien kawan saya, kalau belum foto disana itu artinya belum ke Bandung.
Mm.. saya penasaran. Kok sampe segitunya..
Untung hari itu masih pagi dan tidak terlalu panas. Lumayan juga ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi cukup seru. :)

.bdg

Oh ya by the way, trotoar di sepanjang jalan Dago ini mempunyai ciri khas. Terdapat dua bagian warna pada trotoar ini. Warna cokelat dan warna biru.
Mengapa dibedakan menjadi dua warna? Warna cokelat adalah untuk pejalan kaki dan warna biru untuk pengemudi sepeda. Jadi pemerintah kota Bandung memang menyediakan jalur bersepeda yang aman bagi warganya. Dan memang setiap akhir pekan, daerah Dago ini ditutup untuk car free day. Sama seperti di sepanjang Taman Bungkul Surabaya. Menarik sekali! ;D

trotoar multifungsi



Nah, ini dia. Icon ini rupanya bertuliskan bdg dan tepat diseberangnya ada 4 huruf besar berwarna merah berbunyi D A G O. Sangat eye catching sekali! Dan sesuai kata klien kawan saya tadi, berfoto-fotolah kita bak turis.
"Ini pak! kita udah ke Bandung" Hahaha :p

Setiap huruf mewakili image daerah Dago ini. Huruf D bergambar sendok dan garpu yang artinya daerah Dago ini menawarkan banyak wisata kuliner. Huruf A bergambar seperti bintang atau semacam bunga kembang api, yang mungkin artinya adalah kawasan Dago merupakan kawasan entertainment yang terdiri dari bermacam-macam factory oulet. Lalu huruf G bergambar wayang-wayang yang mungkin artinya walaupun merupakan kawasan perbelanjaan dan kuliner, namun tetap terdapat unsur kebudayaan Bandung. Dan yang terakhir yaitu huruf O. Sebenarnya saya juga tidak terlalu paham apa maksudnya. Huruf O ini bergambar huruf V yang bertumpuk-tumpuk dan akhirnya membentuk sebuah segitiga. Mungkin itu lambang sawah ya? hehe. Saya juga tidak terlalu paham.



D A G O on me


***

Menjelang siang hari, kita jalan-jalan ke daerah KAA-Braga. Uwooh! 2 tempat itu adalah cita-cita saya jika akan mengunjungi Bandung lagi. And this is it! Terkabul! :D
Well, gedung Museum Konperensi Asia Afrika ini merupakan gedung tua dan sangat bersejarah. Arsitekturnya yang khas menjadi daya tarik utama. Dan gedung ini tetap terjaga baik dan aseli. Begitu bahagianya saya dapat mengunjunginya! (Laa laaa laaaa...)
Walaupun museum KAA-nya tutup, tapi tak apalah. Minimal saya sudah berada di lingkungan KAA dan sekitarnya. Dan lagi-lagi saya kalap. Bingung ingin memotret semua bagian dan setiap sudut. Baik dengan kamera digital ini atau dengan kamera prima 35. Semuanya "minta" diabadikan. Dan saya? sudah tertinggal jauh dengan rombongan saya. yeah.


..dan sebagian foto-foto museum KAA dan sekitarnya..


Gedung depannya gedung Merdeka *lupa namanya apa.maaf*

(Ki-Ka: Tabib Wahid Mwan house, Gedung PWI, Gedung Merdeka's picture by Kiki, Gedung Merdeka tampak samping)





dan "sedikit" bernarsis ria dengan sebagian kloter DESPRO ITS :)




***




Setelah dari KAA, kami mampir ke Braga. Inilah kenapa saya sangat sukaaa sekaliii ke KAA dan Braga!
Saya sangat addict terhadap gedung-gedung kuno. Beserta suasana yang mengikuti di sekitarnya. Jadi, jangan heran kalau saya yang paling lama berjalan dan yang paling histeris jika berada di situasi seperti ini. HAHA! :))


Daerah Braga ini mengingatkan saya dengan daerah Kuta Square di Bali. Sama-sama ramai oleh kendaraan dan pejalan kaki. Sama-sama tidak menggunakan aspal pada jalan yang dilalui oleh kendaraan bermotor. Dan sama-sama menjual barang seni.
Bedanya bule-bule yang berseliweran di Kuta Square lebih banyak daripada di Braga.
Di Braga ini lebih banyak menjual lukisan. Mulai dari yang diletakkan di dalam sebuah galeri hingga di pinggir jalan. Sebuah pemandangan yang unik :)




Kelar jepret-jepret, (dengan terpaksa) saya mengikuti rombongan teman capcus ke Cihampelas. Disana juga sudah menunggu kawan-kawan yang lain. Semuanya pada bilang "Ciwalk-Ciwalk". Saya bingung. Ciwalk apaan sih? Perasaan ya sama aja deh kayak dulu. Jalanan macet dengan toko-toko di kanan-kirinya.
Tapi sepertinya saya harus ternganga sendiri. Ciwalk bagus banget! Arsitektur gedungnya yang sangat urban style mengingatkan saya kepada Bapak Ridwan Kamil. Arsitek handal yang berdomisili di Bandung, pengajar di ITB, muncul di iklan classmild sebagai arsitek ternama dan saya merupakan salah satu fans beliau. Hehehe.
Cuman sayangnya saya gak sempet muter-muterin semuanya. Ahh.. lain kali kalau saya ke Bandung, list pertama saya adalah Ciwalk. Hha!

Suasana kontras terlihat antara Cihampelas dan Ciwalk. Padahal mereka bertetangga. Cihampelas ini masih macet seperti dulu. Dengan pertokoan di kanan dan kiri yang cukup ramai. Arsitektur bangunannya pun sesuka hati dan semau yang punya. Ada patung-patung Spiderman, Batman, sampai Superman. Tokoh superhero-nya lengkap uey! Beda dengan Ciwalk yang lokasinya persis di belakang pertokoan yang lebih modern dan urban. Hmm.. memang Ciwalk ini tergolong bangunan baru sih. Jadi desainnya memang yang sedang in.





salah satu bangunan urban di Ciwalk



Oh iya. Sampai lupa. Es krim durian. Spot ini diserbu teman-teman kampus saya. Dengan beberapa scoop eskrim, tambahan ketan dan sebutir durian jadi cemilan favorit teman-teman saya. Haha.

bersama uut penjual ice cream durian (haha)

Kelar sudah perjalanan hari ini.
To be continued yaa di part 3 dengan Pasar Seni ITB :)

13 November 2010

my clown, let me know you

Jika berbicara tentang badut. Saya merupakan orang yang takut terhadap badut. Mungkin saat ini saya sudah tidak takut lagi. Tetapi waktu kecil saya sangat-sangat-sangat takut badut. Apalagi badut import dari luar negeri. Yang dandanannya lebih banyak macemnya. Lebih baik saya kabur dan menghilang.

Ketika dewasa, saya tahu fungsi badut adalah menghibur anak kecil. Tapi kenapa dulu waktu saya kecil saya bukannya terhibur. Tapi malah takut dan kabur.
Well, bagi yang berprofesi menjadi badut, berdandanlah secara wajar. Karena semakin heboh kau berdandan, bukan dikagumi, tetapi anak-anak malah semakin takut. Dan KABUR.
Saya agak kasihan jadinya kepada orang yang berprofesi sebagai badut. Niatnya kan menghibur, tapi kok malah tangisan yang menjadi. *maaf ini kalo opini saya ngawur :)


***

Sudah cukup berbicara tentang badut-badut horor itu. Badut yang akan saya ceritakan adalah manusia yang lucu. Bukan berarti badut-badut diatas bukan seorang manusia. Mereka manusia sama seperti kita. Hehe.
Oke baik. Akan saya perjelas lebih spesifik. Badut ini adalah seseorang yang suka menghibur, yang suka memberikan guyonan. Dan saya sama sekali tidak takut dan kabur dengan badut yang satu ini. Karena dia tidak mengenakan kostum badut dan berhias ala badut-badut import.

Entahlah. Kenapa saya menyebutnya dengan badut. Yang saya tau, si badut satu ini humoris dan jayus. Haha. Tapi terimakasih, berkat si badut satu ini, Alhamdulillah saya bisa move on.
Ada sesuatu di masa lalu yang memang harus saya lupakan. Terimakasih.
Oke. let me know you, my clown! :)



4 November 2010

it's just a boy without ears, eyes, and heart

Banyak yang menyangka judul ini ada sangkut pautnya dengan pacarlah, teman lelakilah dan pendapat-pendapat sejenis yang lain. Bukan. Ini bukan tentang itu semua. Ini adalah tentang saudara. Saudara sedarah atau yang sering disebut adik lelaki.

Saya punya seorang adik lelaki. Kami hanya beda setahun. Adapula adik saya yang perempuan. Cukup jauh jarak kami. Kurang lebih 6 tahun.

Mungkin karena kami sama-sama berbintang Sagitariusnya atau karena jarak kelahiran kami sama dekatnya, maka sering timbul percekcokan. Saya rasa hal ini wajar. Dalam hal persaudaraan wajar timbul perselisihan. Dan pasti akan selesai dan berbaikan dengan sendirinya. Sampai disaat saya dan adik lelaki saya mengalami perselisihan lagi. Tetapi pas ketika di saat lebaran, kami bisa berbaikan. Dan kembali bicara satu sama lain seperti dulu lagi.
Saya sangat senang saat itu. Alhamdulillah kami bisa bareng lagi..

Tapi ternyata itu tidak bertahan lama. Beberapa hari yang lalu kami mengalami perselisihan lagi. Dan itu fatal! Saya sudah benar-benar hilang akal. Tak tau harus bagaimana lagi. Saya sendiri sudah capek harus begini terus.

Lagi-lagi karena masalah sepele. Dan ia tidak mau mendengarkan atau melihat dari sudut pandang orang lain. Mengapa masalah itu sampai dibuat seribet ini.

Malam harinya saya menangis. Saya sudah muak. Saya butuh mama disaat itu untuk berkeluh kesah. Untuk menumpahkan semua unek-unek saya. Mengapa tidak ke ayah saya? Saat itu beliau sedang tugas diluar kota. Dan saya cukup tahu diri. Saya tidak akan mengganggu beliau yang sedang mencari nafkah. Sudah cukup dengan segala keruwetan masalah kantor.
Oke baik. Akan saya pendam. Semoga kuat.

Tengah malam. Buntu karena tidak dapat berpikir dan mengerjakan tugas, saya online. Saya chat dengan sahabat saya. Tiba-tiba saya curahkan semua unek-unek saya. Lega. Dan saya menangis lagi.
Terserah orang bilang saya cengeng atau apalah. Tapi disaat itu memang puncaknya. Saya lelah dan sangat merindukan mama.

Saya teringat dengan kata-kata teman saya, dia juga sering mengalami hal seperti ini dengan adik lelakinya.
(berikut kebawah adalah chat teman saya)

Pernahkah berpikir tidak adik seperti itu karena kurang kasih sayang. Dia terlalu jauh dengan kehangatan kehidupan keluarga dan dia menutupi dengan berusaha tegar dan sok cuek. Cara dia marah-marah/membentak itu adalah ungkapan bahwa ia butuh orang yang disayanginya. Selama ini perhatian jauh, mamamu sudah tiada, ayahmu dinas diluar kota, nenek terkadang mungkin dia malu/gengsi, kakak dan adiknya pun sudah sibuk dengan tugas dan kesibukan masing-masing. Dan kenakalannya yang sembrono, awut-awutan itu pertanda ia jauh dari seorang ibu. Akhirnya pelampiasan itu ditumpahkan kepada kakak wanitanya yang ia anggap dapat menggantikan ibunya, yang mengerti akan egonya, yang mau menerima semua amarahnya. tapi kita hanyalah seorang kakak, bukan seorang ibu.

Kita tidak sesabar ibu yang mengerti dan mau menerima segala tingkah laku anak. Tetapi kita mencoba mengerti akan semua hal ini dan berusaha berpikir logis dan sabar. Tetapi lagi-lagi, kita hanya seorang kakak yang terkadang muncul sifat ego. Kuncinya adalah sabar dan tetap berusaha berkomunikasi.

Mengapa Allah memilih kita sebagai seorang kakak. Karena Allah tau kita mampu untuk menjalani ini semua.
Kenakalan manusia itu ada batasnya. Nanti ada saatnya dimana semua itu akan terbuka. Ada cerita seperti ini, " Ada kotak besar yang harus kita pindahkan ke tempat lain dan kita berusaha mati-matian untuk mengangkat namun tidak kunjung berpindah. Kita coba lagi. Terangkat sedikit tetapi hanya berpindah beberapa sentimeter. Ketika capek, kita letakkan dulu. Biarkan. Kemudian coba lagi dan coba lagi. Tetapi ketika kotak besar itu tidak kunjung berpindah walaupun kita sudah berusaha mati-matian, letakkan saja. Biarkan. Kita tinggalkan saja dulu dan mencoba mengangkatnya disaat yang tepat "
Dan kesimpulan dari cerita diatas adalah, kita terlalu terfokus pada masalah itu saja. Sampai-sampai kita tidak melihat lingkungan sekitar yang masih bisa diangkat. Sama halnya dengan adik kita. Ketika dia susah untuk diangkat, letakkan dulu dan diamkan. Nanti pasti akan terpikir bagaimana cara mengangkatnya.
***

Hmm.. yang pasti saat ini saya berusaha baik. Walaupun dia tidak pernah tau atau tidak mau tau usaha saya, sebagai kakak saya berusaha sebaik mungkin. Usaha ini akan selalu dihargai oleh Allah. Bismillah.. :)

***
Dear God,
Semoga masalah ini bisa selesai dan kami bisa seperti dulu lagi. Amin.