16 Juni 2012

Djogja Karta

Akhir bulan April lalu, saya sekeluarga melancong ke Jogja.Sebenarnya bukan dalam rangka liburan, tapi menemani adik bungsu saya untuk melihat ISI Jogjakarta.

Kedatangan saya pribadi ke Jogja ini sudah 3 kali. Tapi kesemuanya adalah kunjungan yang lumayan singkat. Yang pertama kali adalah ketika perpisahan SD. Rekreasi ke Jogja setelah ujian akhir nasional. Yaa, bisa ditebak, rute mana saja yang di lewati. Haha! Candi Borobudur, Maliobro, Monumen Jogja Kembali, Keraton, yaa yang berbau-bau ilmu sejarah.

Kunjungan kedua justru lebih singkat lagi. Saya dan sekeluarga bersama Alm. Ibu saya. Hanya sehari saja. Dan itupun hanya ke Candi Borobudur dan Malioboro.

Di kunjungan ketiga, kali ini dalam rangka kegiatan kampus. Lebih tepatnya menghadiri acara TKMDII yang diselenggarakan di Gedung Vredenburg. TKMDII semacam pameran interior yang diikuti oleh jurusan interior se Indonesia. Karena lokasinya dekat sekali dengan Malioboro, jadinya kami selalu berkunjung ke Malioboro. Haha! Tempat terjauh saat itu yang kami datangi adalah Resto Pondok Cabe yang terletak di dekat kampus UGM. Resto yang uwenak karena sambalnya yang nendang! :d

Dan di kunjungan yang keempat ini, sudah saya susun sedemikian rupa supaya enggak ke tempat itu-itu saja. Okelah, Malioboro tetap masuk ke dalam daftar wajib kunjung. Tapi saya tempatkan di hari terakhir saja. Keperluannya adalah membeli titipan orang rumah. Hohohoho..

Hari pertama setibanya di Jogja, kami singgah ke sebuah resto bakmi, namanya Bakmi Kadin. Katanya sih ini bakmi cukup femes yaa di Jogja. Saya mesen bakmi kuah/rebus dan segelas jeruk hangat. Hlumayann buat ngangetin badan. Nyomm.. Nyoommm.. Nyoommm

 

Bakmi Kadin *nyomnyomnyom*

Setelah kenyang, kami mampir ke Alun - Alun Jogja. Kata orang-orang setempat kita disuruh nyoba ngelewatin pohon kembar dengan mata tertutup. Mitosnya kalau bisa lolos sampai ke tengah, keinginan kita terkabul. Saya pernah lihat di FTV - FTV sih. Yang syuting di Jogja pasti selalu ada backgroundnya semacam pohon beringin kembar gitu. Coba ah, iseng - iseng berhadiah! :p

Saya kira Alun - Alun Jogja itu yaa seperti dulu waktu saya terakhir ke Jogja (acara TKMDII. Red). Yaa, rame-rame biasa aja gitu. Ealahdalahh, ternyata sekarang lebih rame lagi! Sudah ketambahan sepeda dengan lampu warna - warni. Mulai dari sepeda onthel, sepeda tandem, sampai sepeda model odong-odong. Rame sekalski tapi suweruu~

Yang pertama, saya sama keluarga nyoba jalan lurus dengan mata tertutup. Ternyata yang nyoba bukan kami saja. Buwanyak banget orang-orang yang nyoba. Bahkan sampai ada penyewaan penutup mata. Wahh, orang Jogja kreatif. Momen seperti ini dijadikan ladang usaha. Heuheuheu.

Karna banyak banget yang nyoba sambil tutup mata, jadi setiap orang selalu didampingi teman atau keluarganya. Kalau tidak semua saling bertabrakan. Saya jadi penasaran! Saya coba dengan menutup mata dan didampingi ayah saya. Di depan saya banyak banget orang-orang lalu lalang. Alah, cuek aja. Tabrak! :p

Agak deg-deg an ya awalnya. Mwihihi. Takut melenceng jauh. Pikiran saya pokoknya fokus ke tengah. Lurus aja. Teruss jalann teruusss dan bruk! Saya nabrak pembatasnya pohon beringinnya. Padahal dikiittt lagi bisa sampe tengah tapi saya keburu buka mata. Ahhh sial!

Adek saya juga ikutan nyoba. Dia lolos lempeng nyampe ke tengah. Widih merasa tertantang, saya nyoba lagi dan kali ini langkah lebih saya percepat. Dan hore! Lolos sampe tengah! Hohohoho..

Pohon Beringin Kembar tampak siang hari


Abang odong-odongnya





Keesokan harinya, itinerary yang sudah saya susun sedemikian rupa mulai dijelajahi satu-satu. Lokasi pertama yang kami datangi adalah Taman Sari Yogyakarta. Untuk ke Taman Sari, kami menaiki becak dan diajak muter-muter mblusukan ke kampung-kampung. Oh, i love that! Mengamati orang-orang sepanjang jalan, melihat arsitektur-arsitektur Jawa kuno di setiap jalan :)

Sebelum sampai di Taman Sari, kami mampir ke sebuah galeri batik. Saya suka arsitekturnya. Kuno, kaya detail dan khas Jawa sekali. Nama galerinya "Batik Pramugari". Di dalamnya seperti semacam museum mini dengan galeri tempat menjual batik. Ada kereta kayu yang ditarik kuda pada jaman dahulu, workshop mini membuat batik -mulai dari membuat pola, men-canting, hingga pewarnaan, dan yang terakhir adalah galeri batik itu sendiri. Dengan dominasi warna hijau, putih dan emas membuat galeri ini langsung menarik perhatian mata. 

Si Abang becak



Cantik sekali bukan? :)
 









Menggambar pola

.. jadi inget jaman kuliah dulu..


Lanjut perjalanan menuju Taman Sari. Si abang becaknya mblusuk-mblusuk ke gang. Katanya, "Lebih cepat mbak rutenya". Akhirnya berhentilah kami di sebuah gang yang banyak becak pada parkir. Kata si abang becak, "Di sini ada pelukis kain bagus mbak, namanya Mbah Suhardi" Karena penasaran, mampirlah kita ke sana, yang tempatnya pas di sebelah parkiran becak. Bagus memang tapi tidak boleh mengambil foto. Takut ditiru katanya.

Saya jadi teringat kata salah seorang seniman fotografi Jogja, "Jadi fotografer itu harus nekat, kalau dilarang ya harus curi-curi gambar. Itu baru beda!" Jadilah adek saya mencuri-curi foto. Hhehehe.. :p

Mbah Suhardi dan lukisan-lukisannya
Sesampainya di Taman Sari, saya dan adek saya langsung ceprat cepret foto. Arsitektur yang khas Jawa dengan dominasi warna pink krem pucat. Dahulu Taman Sari merupakan tempat pemandian keluarga raja. Makanya banyak kolam di tempat ini. Selain itu juga terdapat lorong-lorong bawah tanah menuju area yang lain atau jalan di bawah tanah. 

Terdapat juga sebuah masjid yang harus melewati lorong-lorong. Semacam gua bawah tanah. Dan hawanya dingin, tidak pengap! Entah dibangun menggunakan material apa sewaktu dulu. Tapi sayang, di lantai 2 masjid sedang dalam renovasi. Jadi kami hanya bisa memutari lantai 1 dan sekedar jalan-jalan di tangga tengahnya. 







Bangga sekali yang menulis ini. Ckckckck..
"Shaund the Sheep" WHAT??!

Perjalanan selanjutnya kami teruskan ke sebuah tempat, lebih tepatnya bekas gedung ISI yang kemudian di ubah fungsinya menjadi semacam galeri seni yang bernama Jogja National Museum. Lokasinya di daerah Kaliurang. Saya tau ada pameran ini karena beberapa hari sebelum berangkat, di facebook senior saya memajang sebuah foto ala instagram yang objeknya unik. Dan ternyata objek tersebut merupakan salah satu karya yang dipamerkan di galeri tersebut. Wah sebelum sampai tempatnya, saya sudah takut. Takut-takut pamerannya buyar. Tapi rupanya Tuhan masih mengijinkan saya untuk melihat pameran tersebut. Pamerannya masih ada! :D

Pameran ini rupanya merupakan bagian acara dari Festival Seni Rupa 2012 dengan tema "Negari Ngayogyakarta Hadiningrat". Acara ini memperingati 1 abad HB IX dan peringatan 2,5 abad Ngayogyakarta Hadiningrat. Jadi sudah 100 tahun dan 250 tahun lamanya. Bukan waktu yang singkat. Dan yang dipamerkan mulai dari pameran seni rupa sampai dengan pameran arsip HB IX "Negari Ngayogyakarta Hadiningrat".

Sebelum kami ke pameran, kami mampir ke Amri, Museum Art and Gallery. Lokasinya tidak jauh dari Jogja National Museum. Galeri ini adalah milik dari keluarga Alm. Amri Yahya. Bapak Amri Yahya adalah pelukis dan seniman yang terkenal di masanya. Cukup banyak karya beliau yang dipamerkan di museum ini.



Balik lagi ke Jogja National Museum. 
Memasuki halaman yang sangat besar, kami sudah disodorkan dengan berbagai karya seni rupa. Yang pertama kami lihat adalah sebuah sepeda yang tingginya seukuran hampir setinggi pohon beringin! Sangat mencolok sekali berwarna merah. Ada kurang lebih 3-4 karya seni di halaman museum. Ketika kami masuk ke dalam gedung, lebih banyak lagi karya-karya dari seniman Jogja. Pameran ini ditempatkan di 2 lantai. Lantai pertama terbagi menjadi 4 ruangan. Dan di lantai 2 terbagi sekitar 7-8 ruangan plus dengan pameran arsip dari HB IX. 

Di lantai pertama, mulai dari lukisan hingga karya kriya seperti replika tangan emas dan cermin, keris, boneka, dst. Banyak sekali. Kesemuanya berisi tentang HB IX "Negari Ngayogyakarta Hadiningrat". Yang paling saya suka di lantai pertama adalah replika nasi tumpeng lengkap beserta lauk pauknya. Dibuat dengan kombinasi kain bahan, flanel, clay hingga tali pita serta daun-daunan dari plastik. Detail dan sangat mirip dengan aslinya! 

Sepeda Tinggi Sekali







Suasana ruang pamer di lantai 1





Ini nih tumpeng kewrenn!!! Looks real, eh?!


Spiderman Bersarung








Lompat menuju lantai 2! Yang pertama kali saya lihat sewaktu nyampe tangga terakhir adalah sebuah pintu aneh berbentuk oval dan berwarna pink. Penasaran, saya pun memasukinya. Ternyata suasana di dalam ruangan berwarna pink dengan banyak kapas yang berwarna pink bergantungan. Di pojok ruangan ada sebuah bola yang berukuran besar dan berwarna pink juga! Lalu banyak bulatan-bulatan kecil yang posisinya berhamburan menuju bola besar tersebut. Di sisi kanan dan kiri saya ada 2 televisi. Yang di sebelah kanan menayangkan awal mula terbentuknya bayi. Dan yang di sebelah kanan saya menayangkan cuplikan-cuplikan aborsi! Tunggu dulu! Jangannn - jangannn....

Dan benar saja dugaan saya. Seketika itu saya keluar dari ruangan tersebut dan melihat pintu yang saya masuki. Ya benar! Instalasi seni ini menceritakan apa yang ada di dalam rahim wanita, rahim seorang ibu. Ruangan yang berwarna serba merah jambu ini adalah rahim. Dan bola besar di pojok ruangan itu adalah ovum. Dan yap, bulatan-bulatan kecil yang mengelilingi bola besar adalah sperma-sperma. Ini instalasi keren! Seni dan ilmu pengetahuan bergabung. Dan voila! 

Pintu masuknya

Suasana di dalam "ovum"

Instalasi lainnya tak kalah keren! Lebih banyak karya yang berbentuk 3 dimensi. Mulai dari patung, gitar, boneka, mangkok, teropong, kursi, dst. Kesemuanya diolah sedemikian rupa sehingga menarik untuk dilihat. Salut dengan seniman Jogja! Surabaya gak boleh kalah! :D






Teropong Masa Depan :p






Tidak ada komentar: