29 September 2015

Untuk yang selalu bertanya-tanya

Kenapa penelitian saya memakan waktu yang agak lama?
Untuk yang selalu bertanya-tanya kapan saya sidang, untuk yang selalu bertanya-tanya ada masalah apa dengan penelitian saya, untuk yang bertanya-tanya bagaimana prosedur penelitian saya, untuk yang bertanya-tanya mengapa penelitian saya sepertinya susah sekali, untuk yang bertanya-tanya ini dan itu..

Well, bukan mau menyalahkan siapapun, tapi mungkin memang dari awal latar belakang penelitian saya kurang kuat, hingga sampai di semester 3 saya masih berganti-ganti judul, ya walaupun kenyataannya (jujur) di semester 3 saya (dan sebagian besar teman satu kelas) tidak merasa mendapat pencerahan pada thesis masing-masing pada salah satu mata kuliah utama (yang berjumlah 4 sks) yang nantinya akan menjadi penentu masa depan thesis di semester akhir. Dan yang cukup saya sayangkan, mengapa pembagian dosen pembimbing tidak dari semester 2 atau setidaknya awal semester 3, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk melakukan penelitian tidak terlalu mepet dan lebih matang. Tapi yasudahlah, mungkin memang itu yang terbaik menurut kebijakan kampus.

Pada saat masuk semester akhir, proposal mengalami perubahan. Oke, memang setiap mahasiswa memang mengalami penyesuaian dengan dosen pembimbing masing-masing. Namun masalah datang pada saat proposal penelitian saya mengharuskan untuk ganti dosen pembimbing kedua. Setelah ganti dosen pembimbing, masalah belum berhenti sampai disitu. Pada saat proses bimbingan, dosbing dua (dosen pembimbing) memberitahu bahwa ada salah satu thesis terdahulu yang mungkin dapat saya jadikan acuan karena masalahnya serupa. Namun saat saya cari di perpustakaan, internet, dll tidak saya temukan thesis tersebut, hingga akhirnya saya mendapatkannya via senior saya berupa pdf. Usut punya usut ternyata thesis tersebut tidak ada di perpustakaan, baik di komputer maupun di rak buku. Pada saat saya tanyakan kepada ibu perpus, beliau mengatakan bisa jadi thesis tersebut nilainya tidak bagus sehingga tidak masuk ke dalam perpustakaan (kalau tidak salah nilai A dan AB saja yang masuk ke dalam perpustakaan). That's why saya tidak menemukan thesis dengan nama dan judul yang dimaksud dosbing saya.

Singkat cerita, ketika saya pelajari thesis tersebut, saya cukup kaget karena kurang lebih penelitian saya mirip dengan thesis tersebut, bedanya saya mengambil dari sisi sikap dan persepsi dan bersifat kuantitatif. Begitu saya konsultasikan kepada dosbing satu, ketakutan saya terbukti. Beliau menyarankan untuk brainstorming kembali alias rombak ulang proposal saya. Beliau pesimis jika penelitian saya arahkan sebagai penelitian lanjutan dari thesis sebelumnya. Lemes? Jelas. Pusing? Absolutely. Nangis? Jangan ditanya. Inilah jawaban mengapa penelitian saya agak lama. Karena 1 semester yang semestinya digunakan untuk preview 1, preview 2, kolokium dan sidang, saya gunakan untuk brainstorming dan memfokuskan serta mempertajam penelitian saya. Yang dimana semestinya proses ini dilakukan di semester 3 di mata kuliah utama berjumlah 4 sks tersebut. Intinya saya tertinggal 1 semester untuk mempertajam kembali penelitian saya. Hingga akhirnya fokus, tujuan dan arah penelitian dapat saya tentukan menjelang akhir semester 4 dan dapat maju preview 1 setelah lebaran. Rasanya? Tak terkira. Setelah jungkir balik mencari tujuan dan fokus penelitian serta kesamaan visi dan misi dengan kedua dosbing, akhirnya kembali satu suara. 

Untuk yang bertanya apa sih yang saya teliti? Mengapa seribet itu? Projek atau kajian sih kok sampai memakai eksperimen? And the blablablabla...

Kalau boleh dibilang, penelitian saya mungkin disebut percampuran antara ilmu desain dan psikologi. Saya tahu dan sadar dari awal kalau penelitian saya ini "agak" susah karena harus menilai persepsi seseorang dari eksperimen yang nantinya saya lakukan pada penelitian. Tapi entahlah, saya seperti penasaran dan tertarik ingin membahas serta meneliti mengenai persepsi lebih jauh. Konsekuensinya ya memang harus sabar, telaten, dan kuat. Karena rangkaian proses yang sedemikian rupa yang tidak semudah penelitian kualitatif. 

Penelitian saya membahas mengenai persepsi dan sikap konsumen akan sebuah ruang interior (detailnya soon, setelah thesis saya rampung yaa). Penelitian ini menggunakan stimulus beberapa kondisi interior yang dinilai responden via kuesioner. Nah, proses yang lumayan ribet dan membuat penasaran dan jungkir balik adalah pada studi eksplorasinya. Singkat cerita, saya harus menemukan atribut untuk membuat stimulus interior sesuai dengan tujuan penelitian. Studi eksplorasi mulai dari penelitian sebelumnya, studi literatur hingga bertemu dengan narasumber dan expert yang sesuai dengan tujuan penelitian. Pada sesi expert inilah yang mengharuskan saya bertemu pakar-pakar interior dan arsitek yang memberi banyak pengalaman dan pengetahuan untuk saya secara pribadi. Mungkin nanti postingan yang akan datang saya bahas masing-masing expert pada penelitian saya. 

Setelah saya menyelesaikan studi eksplorasi tersebut, langkah selanjutnya adalah melakukan eksperimen dengan membuat stimulus interior berupa gambar 3D dengan beberapa kondisi yang kemudian dinilai via kuesioner oleh responden dan diolah secara kuantitatif. Setelah hasil berupa angka keluar, barulah bisa diambil kesimpulan dari penelitian saya. Dan untuk saat ini, saya sedang menyelesaikan studi eksplorasi dan akan segera beranjak menuju eksperimen.

Untuk yang selalu bertanya-tanya, semoga mengerti dengan penjelasan saya di atas haha. Doakan saya bisa maju sidang dan dinyatakan lulus tahun 2015 ini yaa.. Target dan inginnya sidang dan kelulusan nanti jadi kado ulang tahun untuk diri saya sendiri. Mohon doanya. Semoga penelitian saya dimudahkan, dilancarkan dan sesuai target. Aamiin..
Trimikisi untuk yang selalu bertanya-tanya, i know you care :)

2 April 2015

Bismillah, Dila :)

Akhir-akhir ini saya merasa diri saya menjadi sesosok yang gampang menangis. Menangis bukan karena percintaan atau berantem dengan teman, tapi lebih kepada rindu dengan rumah dan tentang perkuliahan. Dulu seingat saya, sewaktu masih mahasiswa S1 saya hanya menangis pada saat mama meninggal tahun 2007 dan sekali dalam masalah percintaan. Dan itu sudah lama sekali. Tapi, semenjak saya merantau, menjadi mahasiswa S2 dan harus jauh dari rumah, saya mendadak menjadi anak cengeng. Gampang menangis jika rindu dengan rumah, keluarga, mas partner dan sahabat. Wajar karena saya memang baru pertama kali merantau. Tapi semakin kesini saya merasa frekuensi menangis saya semakin hebat. Reason why i always cry adalah saat dimana fase perkuliahan memasuki masa klimaks yaitu thesis dan cukup membuat saya down karena pembimbing yang cukup alot ditambah lagi ketika kesepian, jauh dari keluarga dan perasaan ingin pulang tiba-tiba muncul bersamaan.

Saya tahu, terlalu cepat untuk mengeluh. Karena ini baru permulaan dan perjalanan saya masih baru dimulai. Tetapi sungguh terasa berat sekali, mengingat argumen saya yang selalu dimentahkan oleh pembimbing. Dan itu cukup membuat tertekan secara mental. Saya belum menemukan apa yang diinginkan oleh pembimbing. Saya masih meraba-raba apa keinginan saya dan kemauan beliau. Mungkin usaha saya kurang keras, mungkin argumen saya kurang kuat, mungkin saya kurang kuat berdoa. Semua memang membutuhkan proses.

Ingin rasanya berkeluh kesah, kepada sahabat, kepada keluarga, kepada mas partner. Tapi saya tidak ingin dikenal sebagai anak tukang mengeluh, saya takut justru mereka akhirnya jadi kepikiran dan khawatir saya kenapa-kenapa. Lagipula masalah yang dihadapi mereka siapa tahu lebih berat atau sama beratnya. Bukannya saya meremehkan atau bagaimana, sudah terlintas saran yang akan saya dapatkan seperti apa, sehingga kembali lagi memang kita sendiri yang harus survive. Akhirnya saya pendam sendiri dan tiba-tiba saya menjadi sesosok yang pendiam dan entahlah saya seperti merasa sendiri dan kesepian. Bagaimanapun, tempat curhat terbaik seorang hamba adalah Tuhannya. Dan tempat saya berkeluh kesah adalah kepada-Nya. Menjadi bertambah cengenglah saya, selalu menangis dan menangis di setiap sujud.

Saya rindu tertawa lepas, saya rindu ketika bisa bebas kemana saja, saya rindu sebuah ketenangan. Tapi jalan ini sudah saya pilih dan harus saya selesaikan. "There is no growth in comfort zone and no comfort in a growth zone". Kalimat itulah yang saya pegang. Berusaha selalu saya ingat jika setiap kali saya menyerah dan ingin pulang. Karena tidak ada perkembangan dalam zona yang terlalu nyaman dan tidak ada kenyamanan dalam zona yang terus berkembang.

Bismillah, Dila.. :)

Q.S Al Insyiraah ayat 5-6


28 Desember 2014

"Jangan lupa prioritas, dek"


Ketika saya mendengar kabar itu, dada terasa sesak dan seketika terhenyak

Bulan ini, saya genap berumur 26 tahun. Tidak ada yang spesial di hari ulangtahun saya, kecuali beberapa keluarga yang tak lupa mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya dan tak lupa ibu dari mas partner saya yang ikut serta membuat saya menitikkan air mata di pagi hari :')
Terlepas dari itu semua, saya terlupa bahwa ayah saya sebentar lagi akan segera pensiun. Walaupun beliau masih energik sekali dalam melakukan apapun, tapi usia beliau sudah memasuki masa pensiun. Dan kabar pagi hari kemarin, di saat saya sedang sibuk-sibuknya dengan deadline tugas yang cukup menyita otak dan perhatian, seketika tersadar dan terhenyak bahwa saat itu akan tiba. Saat dimana ayah saya akan segera pensiun.

Saya yakin dan percaya kepada Allah SWT bahwa rejeki itu sudah diatur dan tidak akan tertukar. Insya Allah selama kita berusaha, berdoa dan tak lupa bersedekah, maka rejeki itu akan selalu ada. Seharusnya dengan keyakinan seperti itu saya tidak sepatutnya khawatir dan cemas. Lalu entah apa yang saya khawatirkan, saya pun tak tahu. Satu yang pasti, perasaan saya sesak rasanya, kalut, dan seketika blank seperti tidak tahu harus berbuat apa.

Apakah setiap anak yang mengalami hal seperti ini sama seperti perasaan yang saya alami? Apakah akan sekalut ini? Seharian saya tidak bisa berkonsentrasi (dan pada akhirnya saya paksakan untuk mengenyahkan kekalutan itu sebentar sembari saya bergerak cepat menyelesaikan tugas), malam harinya saya menangis seperti anak kecil yang tersesat. Terisak-isak tanpa suara dan tertidur hingga menimbulkan sisa mata yang bengkak di pagi hari.

Mungkin ini salah satu proses menjadi dewasa. Saya sebagai anak tertua dari 4 bersaudara, harus kuat, harus bisa berpikir dewasa dan bijaksana. Mungkin itulah yang membuat beban di pundak saya berat rasanya. Saya tidak merasa bahwa saya terbebani dan merasa terpaksa. Tidak sama sekali. Justru saya merasa bagaimana caranya agar semua orang yang di sekeliling saya bahagia dan tidak susah. Saya benci mengecewakan orang lain.

Sepupu baik saya mengatakan bahwa saat ini yang harus saya lakukan adalah fokus terhadap studi saya. Belajarlah untuk mengesampingkan masalah itu sementara dan fokuslah terhadap studi agar dapat segera lulus. Ya, amat besar harapan saya untuk bisa lulus tepat waktu. Saya menikmati proses kuliah ini, tapi saya juga bisa segera lulus tepat waktu agar tidak menjadi beban orang tua. Kejelekan sifat saya adalah pribadi yang gampang kepikiran, susah untuk mengesampingkan sejenak dan berkonsentrasi terhadap hal lain yang lebih penting. Masalah sedikit, bikin uring-uringan kepikiran. Gampang kok bikin saya stres. Tinggal bikin masalah dan voila! Saya akan kepikiran dan uring-uringan hingga masalah itu selesai dan timbul perasaan lega pada diri saya.

"Jangan lupa prioritas, dek"

Pesan itu yang akan menjadi pedoman saya hingga nanti saya dinyatakan lulus oleh kampus. Bahwa studi saya akan menjadi prioritas saat ini. Bukan lantas menghiraukan urusan lainnya, tapi saya harus keras pada diri saya sendiri. Saya harus tegas pada diri saya sendiri untuk tidak terlalu memikirkan hal lain selain menyelesaikan studi saya. Setelah lulus dan bekerja, tanggung jawab saya berpindah kepada kebahagiaan keluarga dan tak lupa kebahagiaan saya sendiri. Bismillah yang terpenting adalah ridho Allah dan ridho orangtua :)


Foto ini diambil di sekitar lingkungan kampus. Dan kalimat itulah yang paling pas menggambarkan keinginan saya :)

12 November 2014

Happy Father's Day, Papa


"After my mom passed away, he is the only one parent i have"

Papa saya adalah tipikal bapak yang tegas dan disiplin. Dulu sewaktu mama masih ada, beliau sangat disiplin dan cenderung keras jika perbuatan kami, anak-anaknya, tidak sesuai dengan kehendaknya. Hingga pada saat itu, saya sebagai anak tertua berusaha keras agar beliau tidak selalu marah-marah apabila ada yang tidak beres di rumah. Watak keras beliau turun dari kakek saya (bapaknya papa) dan beliau juga sempat masuk dalam kesatuan ABRI atau semacam itu, sebab saya pernah menemukan foto beliau menggunakan seragam tersebut dan beberapa foto beliau dan teman-temannya sedang baris-berbaris (correct me if i'm wrong, dad :p)

Beliau seorang pekerja yang gigih, ulet, pintar dan pekerja keras. Beliau tidak suka menganggur kecuali sedang sangat kelelahan. Apa saja dikerjakan. Mulai dari berkebun (hingga akhirnya kami punya pohon anggur kecil-kecil di rumah), memelihara binatang mulai dari burung hingga biawak, dan berolahraga seperti lari pagi, bermain tenis, hingga naik gunung. Beliau juga sangat suka akan kebersihan. Saya ingat, setiap kami akan pulang kampung saat lebaran, rumah harus selalu dalam keadaan bersih saat ditinggal. Sehingga sebelum berangkat, kami akan kerja bakti besar-besaran untuk membersihkan rumah. Dan kebiasaan itu mengalir turun kepada saya, sehingga setiap kali akan pergi, kondisi kamar atau rumah harus selalu dalam keadaan rapi dan bersih. Thanks, Pap for make me like this :)

Ada satu kebiasaan jelek beliau. Suka lupa dan panikan. Lupa naruh kacamata dimana, obat dimana, barang-barang dimana, kemudian panik yang paniknya bikin satu rumah ikutan heboh nyari barangnya. Ngomel-ngomel sendiri karena lupa naruh dimana, tapi setelah ketemu dan tahu itu karena kecerobohannya sendiri, cuman bisa nyengir sambil nylimur sana- sini. Biasanya setelah itu, saya yang gantian ngomel soalnya gemes kalau papa udah panik terus marah-marah sendiri sambil nyari barangnya yang hilang dan itu karena kecerobohannya sendiri.  

***

Background beliau adalah seorang lulusan IPB tetapi beliau suka sekali melukis. Beliau suka melukis di atas canvas dengan cat minyaknya. Beliau cenderung suka melukis pemandangan dan manusia atau makhluk hidup lainnya. Mungkin bakat seni itulah yang menurun kepada saya dan adik-adik saya. Dan tak ada satupun yang menurun dari mama dengan latar belakang pendidikan ekonominya. Yaah, walaupun sketsa tangan kami tidak secanggih beliau sih, tapi kami sangat menyukai bidang seni dan orangtua kami tidak ada yang melarang atau memaksa kami masuk ke bidang tertentu. Mereka membebaskan pilihan kami, asalkan kami bertanggung jawab atas pilihan tersebut. Thanks, God for give us parent like them :)

Pekerjaan beliau menuntut untuk selalu bepergian dinas keluar kota. Beliau bekerja di sebuah perusahaan BUMN di bidang perkebunan sehingga diharuskan untuk berkunjung atau bekerja keluar kota, bahkan terkadang mengharuskan beliau untuk penempatan tugas dari perkebunan satu ke perkebunan lain. Bahkan saat mama mengandung saya dan adik-adik, kami jauh berada di sebuah perkebunan teh di Medan, Sumatera Utara yang sangat jauh dari keluarga mama atau papa yang berdomisili di Jawa Timur. Karena tuntutan pekerjaan itulah, mengharuskan beliau untuk memboyong keluarganya berpindah-pindah sesuai tugas dari perusahaan. 

Awalnya saya sempat keberatan, tidak suka, tidak ingin pindah lagi karena saat dimana saya sudah merasa betah di satu tempat, saat dimana saya sudah mendapatkan teman-teman yang baik, saya diharuskan kembali untuk pindah ke tempat lain. Rasanya itu tidak adil. Harus kembali beradaptasi dengan lingkungan baru, hunian yang baru, teman yang baru, dan segala sesuatu yang asing. Tapi lama-lama saya tersadar, semua itu memang ada hikmahnya. Justru saya bersyukur, saya memiliki teman-teman baru yang terus bertambah dengan berbagai macam background, kemampuan untuk cepat beradaptasi dengan lingkungan baru, dan mengetahui berbagai macam tempat-tempat baru. Once again, thanks dad :)

***

Masih ingat jelas diingatan saya bagaimana saat mama tiada. Masih ingat sekali dalam benak saya, walaupun tidak ada saya di lokasi kejadian secara langsung, tetapi yang saya tahu, bahwa papa pada saat itu, membopong mama ke pinggir jalan. Papa pada saat itu berusaha membangunkan mama karena mama dalam kondisi tidak sadar. Tidak ada luka sama sekali pada wajahnya. Bersih. Hanya saja mama dalam kondisi mata terpejam seperti tidur. Tertidur tenang sekali. Dan pergi meninggalkan kami selamanya.

Yang saya ingat, bagaimana saat papa memberitahu saya via telepon, bahwa saya harus ikhlas, bahwa saya harus tenang, bahwa saya tidak boleh bersedih berlarut-larut, bahwa saya harus tegar. Jelas dari suara beliau, beliaulah yang paling sangat kehilangan, kami anak-anaknya pun sangat kehilangan. Tersirat dari nada beliau berbicara dengan nada bergetar sembari berusaha tenang tapi teramat sangat kehilangan. Saat dimana seseorang yang dia kasihi, dia cintai, dia sayangi, yang sudah mendampinginya selama berbelas-belas tahun, tiba-tiba tiada, tiba-tiba harus pergi untuk selamanya. Dan saya pada saat itu, sebagai anak tertua, yang saya khawatirkan adalah kondisi beliau dan adik-adik saya. Bagaimana caranya saya bersikap tegar (walaupun akhirnya saya sempat pingsan beberapa kali), saya harus bisa membantu menenangkan segalanya dan bersikap tenang terhadap kondisi seperti ini. Walaupun itu susah.

He is the only one parent i have. Setelah mama tiada, segalanya berubah. Papa yang dulunya adalah seorang yang keras dan disiplin, perlahan melunak dan sangat sabar. Terkadang, saat kami mengunjungi mama, masih terlihat wajahnya yang sedih, sesekali terdiam seperti berbicara kepada mama tetapi hanya dalam hati. Kepergian mama memang sangat berat untuk kami terima, but life must go on. Yang saya khawatirkan, nanti di saat saya dan adik-adik saya sibuk dengan kuliah atau pekerjaan masing-masing, di saat papa harus bekerja dinas ke luar kota, yang biasanya selalu ditemani oleh mama kemanapun tugasnya, kini beliau harus berangkat sendiri. Karna tidak memungkinkan bagi kami untuk menemani papa dinas, walaupun ingin. Dan kecemasan itu semakin membesar ketika saya membayangkan bagaimana ketika nanti saya dan adik-adik saya menikah dan memiliki keluarga masing-masing. Jelas saya tidak ingin beliau hidup sendirian.

Hingga akhirnya suatu hari, setelah lima tahun kepergian mama, papa memberikan kabar bahagia. Dan tentu saja restu kami berikan untuk beliau. Selama papa bahagia, kami pun suka, dan keluarga menerima, tidak ada alasan yang mencegah kabar gembira tersebut. Satu yang pasti, papa tidak sendirian lagi, karena tugas dinas mengharuskan beliau untuk penempatan keluar kota, papa sudah ada yang menemani, sembari kami sesekali berkunjung kesana. Karna anak-anaknya pun sudah beranjak dewasa sehingga tidak memungkinkan untuk ikut berpindah-pindah sesuai dimana beliau ditugaskan. 

Sekarang lengkap, beliau memiliki dua anak perempuan dan dua anak laki-laki. Adik laki-laki saya yang paling kecil, sedang lucu-lucunya. Dia menjadi obat di saat kami kakak-kakaknya main ke kebun dimana papa ditugaskan. Obat kangen, obat stres karena lucu jadi mainan hihihi.. I miss you, Juna.. Liburan nanti Insya Allah Kakla nginep di kebun. Nanti kita mainan bareng yaa.. Jangan sakit lho, yang sehat biar bisa mainan :*



Happy father's day, papa.. 
Kakla di sini walaupun suka nyusahin, ngerepotin, terkadang minta sangu tambahan, sedang berusaha sekuat tenaga untuk bisa lulus tepat waktu. Biar segera pulang, segera kembali bekerja ke usaha kakla sama temen-temen, segera ngajar (Aamiinn), dan segera-segera lainnya. Papa yang sehat, olahraga yang teratur, jangan panikan trus marah-marah sendiri yaa hehe..

Doain kakla biar lancar kuliahnya, doain Caca, Aya, Juna juga. Kakla selalu ngedoain papa yang terbaik dari sini. Dan sedang berusaha membuat papa dan mama bangga (sekali lagi). Bismillah semoga anak-anaknya papa sukses semua. Aamiinn Ya Rabb.. :)



Bandung, 12 November 2014
Kakla                     

17 September 2014

A Letter for You

Aku bukan seorang ahli bahasa yang pandai berkata-kata
Aku juga bukan seorang penyair yang mahir merangkai sebuah puisi
Aku pun bukan seorang pujangga yang sanggup mengungkapkan begitu saja semua yang ada di dalam kepala
Bahkan untuk membuat tiga kalimat di atas saja aku harus berpikir cukup keras agar terdengar renyah di telinga

Seperti katamu, bukannya aku tidak bisa menjanjikan di kemudian hari yang tersisa hanya keindahan, tapi bukankah tidak ada yang tahu bagaimana rahasia Tuhan esok hari?
Aku hanya bisa berusaha sekuat tenaga untuk memberikan yang terbaik di masa depan nanti

Aku tahu kau paling benci saat marahku adalah diam, aku tidak berkata tapi hanya diam
Aku tahu kau paling benci saat kita bersama tetapi terkadang aku asyik sendiri depan gadgetku
Aku tahu kau paling benci saat aku menanyakan masalah pekerjaan di saat kita sedang bercengkrama
Aku tahu kau paling benci saat kita harus berpisah sementara waktu dan merelakanku melanjutkan studi di luar kota
Aku tahu kau paling benci saat perasaan rindu muncul tapi dipisahkan oleh jarak dan tidak bisa berbuat apa-apa selain menyibukkan diri agar tidak terlihat sedih olehku
Sungguh aku tidak bermaksud untuk membuatmu sedih, sabarlah, sabarlah hingga segalanya tuntas dan aku kembali kepadamu membawa kabar bahagia

Kau tahu aku bukan seorang yang pintar memasak, bahkan membuat mie instant untukmu saja terlalu lembek katamu. Jika aku boleh memilih, aku akan memilih membersihkan dan merapikan rumah saja ketimbang memasak
Kau juga tahu aku bukan seorang yang cerdas di atas rata-rata yang dapat menyelesaikan masalah secepat saat kau sedang makan
Kau pun tahu aku bukan seorang atletik yang hobi berolahraga sehingga harus kau paksa dan terus dimotivasi untuk terus hidup sehat dan rajin berolahraga

Wahai sayang, apakah kau tahu? Aku berusaha keras untuk menghapal dan membedakan mana itu sawi, bayam, dan kangkung. Belajar bagaimana memasak nasi yang punel. Mengerti bagaimana cara menggoreng tahu dan tempe. Meracik bumbu untuk membuat masakan sederhana. Membuat lidah lebih peka terhadap segala takaran masakan. Mengasah insting kapan waktunya meniriskan dan mematikan kompor. Aku berusaha tapi belum bisa dikatakan sebagai seorang ahli. Jauh, sangat jauh dan bahkan belum bisa meramu masakan yang berbumbu tajam. Tapi bukankah ini semua proses, ya kan?

Wahai sayang, apakah kau tahu? Aku berusaha untuk hidup sehat dan aku memang suka dengan hidup sehat. Tapi memang untuk berolahraga, malasku lebih besar daripada niatku. Dan kau pun menjadi salah satu motivatorku selain diriku sendiri di masa depan nanti. Aku ingin hidup sehat dan menjadi pribadi yang sehat. Yang akan menjadi panutan sebagai seorang ibu dan seorang istri yang baik dan sehat jasmani dan rohani.

Diriku senantiasa berdoa, memohon kepada Tuhan untuk memberikan kesehatan kepadamu. Kesehatan dalam beraktivitas, kesehatan dalam berpikir dan bertindak, dan kesehatan saat kau beribadah. Di sampingmu kelak sajadahku terbentang. Menjadi makmum yang baik dan berbakti kepada imamnya. Akan kusiapkan rumah yang aman dan nyaman saat kau berada di dalamnya hingga hatimu merasa tentram, bahu untuk kau bersandar jika kau lelah dan tangan yang mengusap-usap lembut punggungmu, sepasang telinga yang siap untuk mendengarkan cerita-cerita lucumu dan tentu saja keluh kesahmu, dan bibir untuk menenangkanmu dengan kalimat yang menentramkan dan mungkin aku bisa membuat cerita-cerita lucu yang terkadang tidak terlalu lucu. 

Wahai calon imamku,
Aku menunggumu untuk menyempurnakan agamaku. Menunggumu selagi aku menuntaskan studiku dan mempersiapkan diri menjadi istri yang baik untukmu kelak. Insya Allah :)



Bandung,
14 September 2014

21 Juli 2014

Tahun Pertama


Hampir satu semester atau bisa dibilang nyaris satu tahun saya merantau ke kota Bandung. Saya cukup kerasan dengan kost yang baru. Jauh jauh jauh lebih tenang daripada kost yang lama. Walaupun harus berjalan sekitar 5-10 menit untuk ke jalan raya, tapi cukup menikmatinya sebagai olahraga hehehe :p

Bandung dulunya adalah kota yang ingin saya datangi karena distronya keren-keren (jaman waktu masih labil banget nih haha), yang dulunya ingin saya datangi karena ingin sekali berkuliah S1 di FSRD ITB, yang dulunya penasaran banget seperti apa kota kreatif ini, akhirnya kesampaian untuk melanjutkan S2. Rejeki gak bakalan kemana, begitu kata orang-orang. Seperti postingan saya sebelumnya di sini, gimana pun saya senangnya akhirnya kesampaian berkuliah di Bandung, saya masih cinta banget dengan kota Surabaya. Walaupun sekarang kalau pulang ke Surabaya, kulitnya sudah mulai sombong. Sudah teriak-teriak rewel kepanasan kena panas matahari di Surabaya :))

Well, sisa waktu kuliah saya kurang satu semester atau satu tahun lagi. Waktu dimana saya bertempur dengan tesis. Target saya lulus tepat waktu dan tidak mau molor. Kasian orangtua jika harus mengeluarkan biaya lagi untuk menambah waktu kuliah saya. Dan kesian juga mas partner saya yang sudah menunggu di Surabaya, kelamaan ditinggal.

Kalau ditanya sudah kemana saja selama di Bandung, hmm... saya langsung garuk-garuk kepala hahaha. Saya soalnya pernah ditanyain begitu sama bapak-bapak yang duduk di sebelah kursi waktu perjalanan pulang ke Surabaya. "Sudah kemana aja neng selama di Bandung?" Dan saya cuman bisa nyengir ditanya seperti itu. "Sudah kesini? Kesini udah belum? Wah disini itu ada spot bagus untuk foto?" and the blaa blaa blaaa.. Ampuunn, Pak.. Ampuunnn..

Sebenarnya saya ini anak yang suka mbolang. Tapi karena satu dan lain hal yang menghambat hobi saya itu, akhirnya yaa.. belum seluruh Bandung saya sambangi (alesan bener dah :p). Ada satu kejadian yang bikin niat mbolang saya kegep ortu. Sewaktu awal kuliah, saya request supaya sepeda motor saya dikirim ke Bandung. Yah kan lumayan hemat ongkos transport kalau mau kemana-mana. Gampang dan gak ngerepotin orang-orang untuk nebeng sana sini. Tapi rupanya niat mbolang saya sudah tercium oleh ortu. "Gak usah bawa motor ke sana, bahaya, lagian kost kamu kan deket kampus. Jadi bisa naik angkot sekali aja. Lagian ngapain bawa motor? Nanti kamu keluyuran trus kuliahmu keganggu". Setdah! Kan hemat ongkos angkot papahhh.. Lagipula sayang banget udah di Bandung tapi ndak mbolang kemana-mana. Ya kannn.. ya kaaannn... ya kaannn?? :3
Tapi yaa gimana-gimana keputusan akhir tetap dipegang oleh Bos Besar. Tidak diijinkan. Ha ha ha.

***

Belum banyak tempat yang saya datangi di sini. Masih banyak list yang belum dituntaskan. Tapi ada satu moment yang menjadi favorit saya tahun ini --berkunjung ke rumah Nyoman Nuarta, pematung asal Bali dan tinggal di Bandung serta pemilik NuArt Sculpture Park plus pembuat patung Garuda Wisnu Kencana. Ceritanya cukup panjang sebenarnya. Tapi coba saya rangkum yaa..

Awal saya pindah ke Bandung, saya tidak tahu kalau ternyata punya saudara yang tinggal di Bandung juga. Berbekal alamat yang diberikan oleh saudara yang lain, saya berangkat untuk berkunjung ke rumah Om Ersat. Wajah dan wujudnya seperti apa, saya sama sekali tidak ada bayangan. Maklum ini saudara jauuuuuuhhhhhh banget dan belum pernah bertemu sama sekali. Jadi yaa semacam tali kasih, bedanya saya sendirian tidak ada presenter yang mempertemukan saya dan si Om. Oke lanjut. Singkat cerita, om Ersat ini rupanya lulusan fakultas seni rupa dan desain ITB. Dan saat ini beliau bekerja sama dengan Nyoman Nuarta, pemilik NuArt Sculpture Park. Dan saat itu juga saya diajak ke museum tersebut untuk melihat bengkel dimana karya-karya besar om Nyoman dibuat. Sebenarnya saya tidak terlalu kenal dan tahu mengenai Nyoman Nuarta. Tapi dulu beberapa hari sebelum keberangkatan saya ke Bandung, saya melihat ulasan tentang NuArt. Jangan-jangan ini suatu pertanda! *zoom in zoom out*

Hal menakjubkan yang pertama kali saya lihat adalah bengkel NuArt yang berisi patung-patung yang sedang dikerjakan. Salah satu patung sepertinya cukup familiar. Ternyata patung tersebut adalah bagian dari patung Garuda Wisnu Kencana. Di pos depan, terdapat sebuah papan yang menuliskan hari ke berapa sebelum hari H. Semacam reminder raksasa. Kesempatan yang amat jarang sekali rasanya bisa masuk ke dalam bengkel ini. Berbekal topi proyek dan kamera, saya seperti cah ndeso. Ber-wah-wah sana sini, ngowoh. Puas dari bengkel, saya diajak keliling NuArt. Tapi sayang, gedung museumnya sedang direnovasi  sehingga tidak bisa masuk ke dalam museum. Untuk sementara harus puas dulu bisa tahu museum patung keren plus bisa masuk bengkelnya. Alhamdu? Lillaaahhhh....

Alhamdulillah rejeki anak sholehah. Setelah peristiwa ajakan ke bengkel NuArt, saya dan sepupu diajak om Ersat berkunjung ke rumah om Nyoman. Kali ini gara-gara ulah iseng sepupu yang "ngadu" ke om Ersat kalo saya penasaran banget sama rumahnya om Nyoman. Alhasil berangkatlah kita hari itu juga main ke rumah Nyoman Nuarta. Padahal beliau baru saja sembuh dan keluar dari rumah sakit. Perasaan bersalah langsung menghinggap di pundak saya.

***

Dulu, si om pernah cerita bahwa rumah Nyoman Nuarta ada di belakang museum NuArt. Dalam bayangan saya, ideal banget rumah tidak jauh dari kantor. Dekat dan dapat mengawasi secara langsung. Dan saat itu juga, saya merasa beruntung sekaligus penasaran bagaimana isi rumah seorang pemahat patung sekelas Nyoman Nuarta.

Saat tiba di depan rumah, kami disambut oleh satpam yang bertugas di pos depan. Dengan memberikan salam seperti hormat kepada kami, pintu gerbang dibuka dan tampak sebuah komplek rumah yang asri dengan banyak pepohonan dan tanaman. Turun dari mobil, kami masuk ke tengah komplek rumah yang terdapat kolam renang persegi panjang dengan patung khas Nyoman Nuarta berbentuk seorang wanita yang tertidur di atas sebuah batu panjang. Di sisi kanan terdapat undakan tangga ke bawah yang terdapat semacam gazebo ala bali lengkap dengan kolam air mancur. Kolam renang diapit oleh rumah Nyoman Nuarta dan dua rumah kedua anaknya. Jadi di dalam satu kompleks rumah yang luasnya entah berapa hektar itu, terdapat 3 rumah dengan kolam renang dan gazebo. Dan satu lagi, ruang kerja dan workshop pribadi Nyoman Nuarta yang berada di bawah kompleks. Di bawah dalam arti sesungguhnya. Akses menuju area tersebut kita harus menaiki semacam "lift" dengan bagian atas yang terbuka untuk turun ke bawah. Lift ini mirip dengan yang pernah saya naiki ketika berada di Rock Bar Cafe di Bali. 

Masuk ke rumah Nyoman, kita di sambut dengan ruang keluarga dengan mini pantry yang langsung terbuka menghadap pepohonan. Adem rasanya. Naik ke lantai dua, terdapat satu area ruang duduk sofa yang berukuran besar dan satu area ruang duduk semacam ruang rapat dengan meja panjang dan banyak kursi. Rupanya di dalam rumah om Nyoman terdapat museum mini pribadi. Tidak terlalu luas, tapi apik dan artistik. Jika beliau menerima tamu pribadi atau saudara, mungkin akan diajak melihat beberapa koleksi karya beliau di ruangan ini. 

Saat itu saya belum bertemu langsung dengan om Nyoman, namun ketika sekembalinya kami dari melihat workshop pribadi, rupanya beliau sudah menunggu di rumahnya dan menyambut kami. Kesan pertama saya? Om Nyoman ramah dan humble. Beliau tidak segan-segan memberikan saran dan nasehat yang menurut saya sangat kebapakan dan tidak seperti menggurui. Beliau sempat menceritakan masa susahnya dahulu hingga sukses seperti saat ini. Kata om saya, om Nyoman ini suka bercerita dan tidak akan berhenti sampai lupa waktu :))

Saat kami berpamitan pulang, karena melihat muka saya yang berbinar-binar saat menyimak cerita om Nyoman, saudara saya (lagi-lagi) berinisiatif untuk berfoto bersama. Supaya Dila senang, katanya. Hahaha dasar usil *jitak*

Om Nyoman sekeluarga merupakan pribadi yang ramah dan menyenangkan. Senang bisa berkenalan dengan kalian semua. Semoga lain waktu saya bisa bermain lagi ke rumah om Nyoman :)

Di dalam area workshop dan bengkel NuArt

Do you see part of Garuda Wisnu Kencana statue?

Terimakasih om Nyoman sekeluarga sudah menyambut dengan hangat dan ramah


8 Januari 2014

Dua Puluh Lima


Dua puluh lima..
Kalau boleh dibilang usia kepala 2 ini adalah masa-masa dimana kita belum cukup dikatakan terlalu dewasa, tapi juga terlalu bodoh untuk melakukan hal-hal yang kekanakan. Saat-saat sedang berada di tengah-tengah masa transisi. Transisi untuk menjadi lebih baik lagi atau malah menjadi lebih buruk.

Tak pernah terpikir bahwa di usia 25 ini saya mencapai salah satu keinginan terbesar yaitu melanjutkan kuliah S2. Sama sekali tidak pernah terbersit sedikit pun bahwa hal ini akan terjadi. Satu sisi saya bersyukur sekali karena keinginan saya terkabul, tapi di satu sisi lainnya, saya takut jika mengecewakan orangtua jika studi ini sia-sia. Sia-sia dengan perjuangan orang tua dan sia-sia dengan usia. Dan saya tidak mau itu terjadi.

Banyak planning yang pernah saya sharing dalam blog ini. Beberapa di antaranya tentang karir dan rumah tangga. Mengenai karir, sering saya ungkapkan keinginan untuk mengajar dan enterpreneur sekaligus. Dan untuk rumah tangga, ingin sekali selepas wisuda S2 (yang semoga dan harus lulus tepat waktu 2 tahun) untuk langsung berumah tangga. Ya Allahualam.. sekali lagi, semoga doa ini dikabulkan :)

***

Momen pertambahan usia tahun ini harus saya lewati jauh dari orang-orang terdekat. Sebagai anak rantau, rasanya sedih-sedih gimanaaa gitu, saat dimana seharusnya hari ulang tahun dikelilingi oleh orang-orang tercinta, tapi kenyataannya kondisi jauh di kota orang. Yaa namanya juga sedang studi demi masa depan. Tidak boleh ndempis (artinya: sedih mojok jongkok di pojokan kamar). Tak pantas.

Apapun kondisinya, harus diterima. Bersyukur karena masih diberi kesehatan, dilancarkan urusannya, rejekinya, dan dipastikan langkahnya. Ahh, kalau diajak flashback ke tahun-tahun lalu, rasanya jadi kangen. Beberapa tahun terakhir saya sering mendapat surprise saat ulangtahun. Pada dasarnya saya suka memberi dan diberi surprise. Momen surprise saya posting di sini dan sini.

Ada satu kejadian cukup epic. Saat saya dan teman-teman mencari warung untuk makan siang, tiba-tiba dua anak dalam rombongan menghilang. Feeling saya kok rada ndak enak gitu. Dan benar saja, ketika saya dan beberapa teman menunggu pesanan makanan, dua teman saya yang hilang tadi muncul sambil bawa kue semacam donat yang ditancepkan lilin kecil di atasnya. Lengkap dengan "piring" kertas. Haha! Bisa aja deh "surprise dadakannya" :))





 


Thank you very much for the little surprise, guys! :'D
Mamacih Lusi, Ratu, Mbak Wening, Mas Boni, Mas Oot, Mas Daniel

Esok harinya, kebetulan saya dan Dewi --teman "kembaran tanggal 3 Desember (lagi)"-- ingin mengadakan syukuran makan-makan. Kita berinisiatif untuk melakukan hal yang rutin dilakukan bersama teman satu kelas selama S2 ini, yaitu masak bareng dan makan-makan di kontrakan teman satu kelas kami --Ilham. Yang masak jelas Chef Dika --Mas Dika ini adalah teman S2 yang jago masak dan memang sempat jadi chef di sebuah hotel.

Semua menu kita percayakan sama Chef Dika. Apapun yang enak-enak. Kita cuman bantu urunan dan doa saja haha.. Lokasi kita pilih di kontrakan Ilham karena kontrakan tersebut memang menjadi favorit kami sekelas. Lokasi di dago hilir dekat sekali dengan Lawang Wangi (cafe dan galeri seni). Yang menyenangkan itu view balkon kontrakan. Langsung menghadap tebing dan kalau malam tiba, banyak kelap-kelip dari kota Bandung yang berada di bawah. Jangan tanya udara. Jelas dingin tapi menyenangkan :)

Dewi --Kembaran tanggal 3 Desember saya-- yang tidak memakai jilbab

Seharusnya makanannya difoto sebelum dihajar. Tapi cuaca hujan saat itu, sehingga kami menjadi sangat kelaparan karena udara dingin. Hehe.. Yang pasti semua makanan huwenak banget. Thx, Chef! :D


12 November 2013

Journal Anak Kost






Tepat tiga bulan saya menjadi anak rantau. Pertama kalinya jauh dari rumah dan jauh dari keluarga dalam waktu yang cukup lama. Yap, kota inilah yang akan saya tinggali selama kurang lebih dua tahun. Bandung.

Dari jauh hari sudah saya persiapkan mental dan fisik untuk jadi anak kost. Keterampilan-keterampilan untuk bertahan hidup sudah saya pelajari. Termasuk memasak. Saya bodoh banget untuk urusan masak-memasak -___-" kecuali masak air, telor, indomie dan nasi haha..

Well, di minggu pertama..
Rasanya langsung homesick! Sama sekali tidak terbayang bakalan secepat ini. Perkiraan saya, homesick bakalan datang saat 1-2 bulan berjalan. Ini bahkan belum sampai sebulan!
Bisa jadi karena lingkungan kost baru saya. Sewaktu survei, saya sebenarnya langsung jatuh cinta dengan kost tersebut. Rumahnya khas rumah nenek (saya menyebut rumah nenek karena yang punya memang sudah sepuh dan mengingatkan dengan nenek saya). Arsitektur khas rumah Belanda dengan pekarangan yang cukup luas, teras keramik kuno, dinding rumah yang sebagian di cat bercorak batu-batu kali berwarna hitam putih, dan yang paling utama adalah di depan "calon" kamar saya terdapat sebuah taman yang asri. Saya sudah membayangkan, ketika pagi hari atau ketika saya sedang belajar, pemandangan di depan kamar saya adalah hamparan taman yang meneduhkan. Dan pada saat itu, ibu kost menunjukkan sebuah kamar di pojok taman yang bakalan saya tempati. Pas! Lengkap dengan pelataran taman dan pohon yang rindang.

Tapi sepertinya kamar itu belum berjodoh dengan saya. Sewaktu saya sampai di Bandung dengan barang bawaan banyak persis anak minggat, ibu kost memandu ke kamar yang akan saya tempati, bukannya berjalan lurus, tangan saya digandeng berbelok ke arah lain. Sebuah kamar di pojok rumah (dekat dengan rumah utama) dan tanpa jendela yang menghadap taman. Itulah kamar yang akan saya tempati. Rasanya ngguwondookk setengah mati. Apaan nih. Jendelanya menghadap sisi lain, halaman parkiran ibu kost. Yaelah, luas sih luas kamarnya, tapi kan seharusnya saya dapet kamar di pojok taman. Karena sudah sepuh juga mungkin ya, pas protes kamar yang seharusnya jadi kamar saya, eh si ibu dengan polos bilang gini, "Kamarnya yang kosong cuman kamar yang di pojok itu. Yang itu (pojok taman) udah ada yang nempatin". Ibuuu, apakah engkau lupa kemarin menunjuk kamar yang mana?? Huhuhu.. Mau marah kok ya ndak tega, akhirnya kembalilah saya ke kamar pojokan dengan hati nggondok. Belum kelar sampai situ, ibu kost sudah memberikan berbagai macam peraturan yang menurut saya cukup menyebalkan. Kenapa jugaa, si ibu ndak bilang waktu survei kemarin sih. Kalo begini, hati kan tambah lebih nggondok kuadrat.

Dengan kondisi kost seperti itu, plus kegiatan kampus yang hanya daftar ulang dan sisanya mengganggur total, membuat saya bingung harus ngapain. Kost tidak menyediakan wifi atau internet. Malam-malam di awal nge-kost, tidak bisa tidur nyenyak. Rasanya tidak tenang. Setiap beberapa jam sekali terbangun. Dan di minggu pertama pula saya sakit. Tidak parah tapi cukup merepotkan. Rasanya pengen mengadu ke keluarga kok ya lemah banget kayaknya. Dan ada satu kondisi ketika saya baru pulang ke kost ternyata sedang ada pemadaman lampu. Jelas saya tidak siap lilin dan senter. Gelap total. Ingin sekali saat itu nebeng menginap di kost teman, tapi saya berani-beranikan untuk tidur malam itu. Sebenarnya saya tidak masalah dengan kondisi mati lampu, selama itu familiar dengan suasana sekitar. Ini masalahnya saya belum terbiasa dan masih terasa asing, jadi rasanya insecure.

Masalah belum kelar sampai disitu. Suatu hari, ketika saya baru pulang, maksud hati ingin mandi biar badan segeran. Tapi setelah mandi dan sholat, tiba-tiba saya tidak sengaja lihat ke cermin. Muka saya memerah seperti kepiting rebus. Badan saya gatal-gatal dan bentol-bentol banyak. Feeling sudah ndak enak. Saya pernah mengalami ini. Dan benar sesuai feeling, saya kena ulat bulu. Bisa jadi menempel di handuk yang saya jemur di luar. Oohh Tuhan, kenapa harus kejadian lagi. Akhirnya terpaksa saya mandi lagi dengan handuk dan baju ganti yang baru, minum obat gatal, dan langsung tidur. Dan esoknya saya baru tau kalau tanaman sekitar cukup banyak ulat bulu menempel *pingsan*.

Seminggu kelar urusan daftar ulang, masih ada seminggu lagi sebelum mulai masuk kuliah. Waktu seminggu itu saya manfaatkan untuk pulang ke Surabaya. Butuh asupan kasih sayang huahahaha.. Maaf saya bener-bener newbie banget urusan kost. Mbolang kemana-mana berhari-hari gak masalah, entahlah kok urusan menetap jadi anak kost rada berat *alesan*. Dan memang, keputusan saya pulang ke rumah itu tepat. Setelah itu, perasaan homesick berkurang banyak hehehe. Dan bisa bertahan hingga beberapa bulan :))

***

Tepat sebulan akhirnya saya pindah ke kost yang baru. Lokasi ke kampus memang tidak sedekat seperti kost yang lama, jarak kost yang baru ke jalan raya pun harus jalan 10 menit. Tapi rasanya di kost yang baru suasananya lebih tenang. Tidak ribut motor trek-trekan lalu lalang. Lebih okelah dari pada yang lama. Dan yang terpenting, kost yang baru ada wifi-nya! Dasar anak muda jaman sekarang, harus selalu terkonek dengan internet :p

Ada beberapa niat terselubung yang saya ikrarkan dalam hati. Salah satunya adalah belajar memasak. Memasak adalah salah satu kekuatan survive sebagai anak kost. Ketika tanggal tua, persediaan ongkos hidup mulai menipis, dibutuhkanlah keterampilan memasak. Harga makanan di Bandung lumayan mahal jika dibandingkan dengan harga makanan di Surabaya. Jauhlah. Apalagi sekitaran daerah Keputih dan Gebang yang jadi surganya makanan enak dan murmer untuk anak-anak ITS macam saya ini. 

Sebagai anak kost, kita juga harus pintar-pintar pilih makanan. Jangan sampai asal makan dan sakit. Udahlah hidup sendiri, jauh dari rumah, sakit pula. Harus rajin konsumsi susu, sayur, daging, atau buah. Perhatikan kondisi cuaca juga, jika sudah musim pancaroba, rajinlah minum vitamin dan minum yang hangat-hangat. 

Tapi, serinci-rincinya menata pola makan dan hidup sehat, tetap aja kalau sudah musim ujian dan tugas banyak, semua menjadi lupa waktu, lupa makan, lupa bersih-bersih. Khas anak kost yang hidup sendirian. Tapi, saya belumlah apa-apa. Usia pengalaman ngekost saya masih tiga bulan. Belum profesional. Baru tiga bulan, tapi complainnya udah banyak ya. Hahaha, maafkan :p

Edisi "Journal Anak Kost" ini sepertinya bakalan saya rutinkan sampai dua tahun ke depan (doakan saya konsisten menulis yaa! mhihiihihi). Sambil membiasakan diri buat nulis lagi sih sebenarnya hehehe. Sudah lama absen dari dunia tulis menulis dan saatnya mulai belajar lagi.

Ok, see you at another story! :* :*



Dan jika suatu saat
Buah hatiku, buah hatimu
Untuk sementara waktu pergi
Usahlah kau pertanyakan ke mana kakinya kan melangkah
Kita berdua tahu, dia pasti

Pulang ke rumah
(Di Beranda - Banda Neira)

8 Juni 2013

Bandung, i'm coming!


     Kepada Yth. Pelamar SPS ITB

    Hasil seleksi SPS - ITB Sem. I Gel 1 2013/2014 sudah diumumkan di www.sps.itb.ac.id.

    Salam SPS-ITB
    (SMS - Center SPS ITB)

Pesan singkat yang tertera di handphone nokia jadul saya malam itu membuat cukup panik dan panas dingin. Saat itu saya tengah berada di salah satu hotel Surabaya yang sedang mengadakan pameran grafis. Dan kebetulan salah satu teman berpartisipasi dalam pameran tersebut.

Kondisi ipad saat itu sedang krisis pulsa dan membuat jaringan internet luar biasa lemot. Selagi saya menanyakan password wifi kepada salah seorang pegawai hotel tersebut, saya memberitahukan info kepada --Inko-- teman S1 yang sama-sama mendaftar ITB.

Lama tak dibalas, akhirnya saya mendapat password wifi cafe tersebut dan sesegera mungkin untuk bisa online. Ketika email saya buka, dengan masih membaca tiap kalimatnya dengan perasaan tak menentu, tiba-tiba notification twitter berbunyi. Isinya pernyataan selamat dari Inko bahwa kami semua lolos seleksi S2 ITB Gel 1. Masih tidak percaya, saya langsung menamatkan isi email dengan cepat. Dan Alhamdulillahhhh.. memang nama saya tertera disitu! Ohh rasanya senang sekaliii... impian saya untuk berkuliah di ITB tercapai juga. Terimakasih, ya Allah :)






Keinginan untuk lanjut S2 sebenarnya sudah ada sejak lulus dari S1. Inginnya sih lamar-lamar kerja dulu, ngerasain setahun, baru lanjut sekolah. Belum sempat untuk coba lamar sana-sini, rupanya takdir mengatakan saya dan beberapa teman kampus untuk mulai merintis usaha mandiri bersama. Dan Alhamdulillah kami sudah berusia setahun lebih lima bulan. Semoga kami bisa langgeng sampai anak cucu nanti. Amien.. :)

Karena sangking sayangnya sama anak kami --DECORE--saya sempat mengalami dilematis antara lanjut atau tidak untuk S2. Di satu sisi, keinginan pertama saya memang lanjut S2 dan itu adalah salah satu cita-cita almarhum ibu. Tapi di sisi lain, saya ingin selalu standby di DECORE, selalu terlibat di dalamnya, untuk terjun langsung dalam setiap project-projectnya. Tapi tidak mungkin keduanya bisa saya ambil.

Awal mula tujuan saya S2 adalah hanya sekedar untuk menambah ilmu. Tetapi lama kelamaan, keinginan itu berkembang untuk memanfaatkan ilmu yang saya dapat untuk disharingkan kepada yang lain sebagai dosen desain.

Sepengetahuan saya, kuliah desain S2 hanyalah di ISI dan FSRD ITB. Dan kedua kampus tersebut tidak berada di Surabaya. Saya tau, salah satu syarat menjadi dosen adalah S1 dan S2 yang sama-sama di satu garis yaitu bidang desain. Tapi di situ saya masih ngotot. Saya berpikir bahwa jika S1 saya di bidang desain dan S2 saya di bidang manajemen/bisnis, saya masih tetap bisa diterima untuk menjadi dosen. Dan saya sudah ancang-ancang untuk mengambil kuliah di Surabaya dengan sistem kuliah pada saat weekend saja. Jadi saya tetap bisa meng-handle DECORE dan kuliah di akhir pekan.

Yaa tapi gimanapun manusia berencana, Tuhan pun lah yang menentukan hasil akhirnya. Ketika saya konsultasikan dengan salah satu dosen, jika niat saya adalah menjadi dosen, mau tidak mau memang harus mengambil kuliah desain. It means, saya memang harus menuntut ilmu di kota orang.

Akhirnya dengan segala pertimbangan, ITB Bandung menjadi kampus tujuan saya. Mulai dari mencari info, mendaftar via online, membuat portofolio dan proposal tesis, mengurus persyaratan pendaftaran, hingga bolak-balik Surabaya-Bandung dilakukan. Dan yang paling membuat ketar-ketir adalah nilai TOEFL/ELPT saya yang belum lulus, sedangkan tes wawancara sudah diumumkan kapan tanggalnya. Seperti semacam dejavu, persyaratan wisuda S1 dahulu adalah lulus TOEFL dan saya lulus setelah tes TOEFL beberapa kali. Sama dengan tes TOEFL/ELPT di ITB, setelah tes kedua,saya baru dinyatakan lulus.

Ekspresi saya persis dengan pengumuman TOEFL S1, sangat emosional sekali. Sewaktu pengumuman lulus TOEFL S1, saya dan beberapa teman yang posisinya saat itu berada di salah satu restoran di mall, langsung sujud syukur dan menangis terharu. Sama dengan ketika pemberitahuan lulus TOEFL/ELPT S2, posisi saat itu saya berada di kantor pajak langsung teriak kegirangan tanpa suara di pojokan. Dan cuman bisa nyengir waktu dilihat orang-orang. Hha!

Begitu pula sewaktu panggilan tes wawancara. Saya dapat undangan via pos dan email. Rasanya gugup luar biasa. Satu kelompok diisi dengan 5-6 orang calon mahasiswa. Yang mewawancarai --entah itu siapa belum kenal juga-- yang pasti orang-orang TOP FSRD ITB. Dengan masing-masing deretan gelar yang mengikuti di depan nama masing-masing. Saya penasaran. Saya cari tau siapa saja kedua bapak tersebut. Dan yang paling dahsyat salah satu dosen tersebut adalah dekan dari FSRD. Alamak!

Tiba hari H tes wawancara. Gugup? Jangan ditanya. Mulut sudah komat-kamit berdoa. Malam hari sebelumnya, saya menyempatkan membaca lagi proposal tesis yang saya buat. Selain itu sedikit browsing-browsing tentang wawasan desain. Sedikiittt..

Ruang tempat saya bakalan di uji nyali adalah di Sekretariat S2 FSRD ITB. Saya satu kloter dengan Mas Mahendra, senior saat S1. Rata-rata teman-teman peserta uji nyali saya cukup beragam. Ada yang dari Bali, Jakarta, Malang dan Makassar.

Saya memang ditakdirkan untuk maju pertama kali. Dengan abjad pertama huruf "A" maka nama sayalah yang dipanggil pertama kali. Perasaannya sama persis ketika saat sidang tugas akhir tapi bebannya bertambah karena belum kenal siapa dosennya.

Pertanyaan seputar portofolio, proposal tesis, pekerjaan, wawasan desain hingga cita-cita setelah lulus S2. Lumayan lama kalo kata peserta wawancara yang lain. Saya-nya ngeh gak ngeh, pokoknya mah udah lega bisa kelar tes wawancaranya. I'll do my best, sisanya saya serahkan sama Tuhan.

***
 
Perasaan ketika pengumuman lolos seleksi S2 saat itu memang luar biasa senang sekaligus sedih. Rasa senang, terharu,excited dan sedih campur berbaur menjadi satu. Sedih karena akan berpisah dengan teman-teman sementara waktu, berpisah dengan kantor, berpisah dengan keluarga, berpisah dengan zona nyaman. Yap, there is no growth in comfort zone and no comfort in a growth zone. Kalimat sakti itu yang secara tidak langsung menjadi penyemangat saya.

Yang pasti saya sangat excited untuk memulai semuanya. Excited dengan lingkungan baru, suasana baru, teman baru, dan untuk pertama kalinya nge-kost! Haha, selama 24 tahun ini saya belum pernah sekalipun jauh dari keluarga. Sejauh-jauhnya bepergian pun pasti kembali pulang. Tapi untuk tinggal sendirian selama 2 tahun --even akan pulang ke rumah pada waktu liburan-- belum pernah saya alami. Entah gimana rasanya. Homesick atau malah excited. We'll see :)

Bandung, i'm coming! :D

20 Maret 2013

Peace, Love and Gawul

Hello, my loyal readers!

Sudah lama saya ndak posting tentang travelling ya. Saya juga masih punya hutang postingan Bali dan Semarang. Janjiiii thok tapi gak kelakon :'( *translate: janji mulu tapi tidak direalisasikan

Alasannya masih tetap klise sih. Pekerjaan. Dan lagi riweuh persiapan tes S2 ITB (doakan diterima yak!).
Yaaa, karena dua hal itulah saya jadi jarang nulis panjang-panjang dan males ngedit foto. Cuman posting kecil-kecil aja supaya tetap bisa update blog :(

Anyway, beberapa hari lagi --lebih tepatnya akhir Maret-- saya dan gerombolan siberat --yang anggotanya masih bongkar pasang-- mau bermain ke Jogjakarta. Cari yang terdekat sih dari Surabaya. Yang pasti selama disana, kami bakalan ke tempat-tempat baru.

Stay tune ya, guys! Postingan semuanya lagi dicicil. Semoga bisa cepat kelar.
Peace, Love, and Gawul! ;*

Ini foto di depan Stasiun Tawang Semarang. Postingannya? Soon! :*

16 Februari 2013

Welcome to My Home

Di postingan yang lalu, saya sempat membahas rumah impian saya di sini. Mungkin sebagai review, sedikit saya bahas lagi. 

Ada dua tipe rumah yang saya sukai. Dua rumah ini berbeda satu sama lain. Yang pertama saya suka dengan rumah berasitektur Belanda dengan teras yang luas dan lantai tekel dengan corak yang khas. Yang kedua, saya suka dengan rumah modern gaya urban. Dengan permainan material alam dan material unfinished (rustic).

Beberapa minggu yang lalu, saya menemukan di salah satu web desain, sebuah rumah dengan tipe yang saya suka. Sebuah rumah yang hampir semua materialnya unfinished. Istilah desain saat ini adalah rumah dengan gaya industrial. Identik dengan expose material, apa adanya. Menurut saya, itu sangat menunjukkan karakter dari si pemilik rumah. Sangat personal sekali.

Kalo kata temen saya, semakin nampak gudang, pasti saya semakin suka. Hahaha :))
Entah terdengar seperti sindiran atau pujian, yaa tapi saya memang suka dengan rumah ini :D






Dengan bukaan yang banyak dan berukuran besar-besar, sirkulasi di rumah sudah sangat baik sekali. Dengan bukaan yang besar, rumah ini mendapat asupan sinar matahari berlimpah-limpah, sehingga penggunaan lampu dan pendingin hanya jika diperlukan saja. Rumah down to earth sekali :)

Expose material bisa ditemukan hampir di setiap sisi rumah ini. Dinding yang menggunakan bata beton, begitu pula dengan plafon dan lantainya. Material yang digunakan tidak terlalu banyak macamnya. Hanya beton, besi, kayu dan kaca.

 




 Penggunaan material warna netral seperti abu-abu, hitam dan coklat ini membuat saya sebagai pemilik rumah (ngehayal ini ceritanya haha :p) akan menambahkan warna-warna kontras seperti warna merah, kuning, tosca. Unsur warna hijau --seperti tanaman-- juga dimasukkan supaya lebih segar dan hidup. Permainan frame-frame foto yang dipasang acak di salah satu dinding juga bisa menjadi point interest. Hmmm.. terdengar menyenangkan :)



 

Yep, ini rumah impian saya. Bagaimana dengan rumah impian kamu? :D

11 Februari 2013

Stupido Ritmo


source from pinterest
 
 You and I painting rainbows when no rain falls on our wall
Smelling raindrops on a hilltop as they fall
You and I laughing loudly with no reasons in our walk
Chasing sunsets, dancing minuet in the dark

Why don't we just disappear
If that could keep us here?

You and I sharing snow fall and the beach sand in our thoughts
Writing love words with our whispers in our hearts
You and I stealing kisses from each other when we fight
Making wishes on the same star every night

Why don't we just dream away
If that could make us stay?
Why can't we just dream away?
We're not real, anyway 

Why don't we just stay this high?
Pretend we're all that fly
Why can't we just stay this high?
We might rule our own sky

You and I singing solo our very own silly song
Playing lovers of all edens all life long


 (Float - Stupido Ritmo)
  • Stupido Ritmo


    You and I painting rainbows when no rain falls on our wall
    Smelling raindrops on a hilltop as they fall
    You and I laughing loudly with no reasons in our walk
    Chasing sunsets, dancing minuet in the dark


    Why don't we just disappear
    If that could keep us here?

    You and I sharing snow fall and the beach sand in our thoughts
    Writing love words with our whispers in our hearts
    You and I stealing kisses from each other when we fight
    Making wishes on the same star every night

    Why don't we just dream away
    If that could make us stay?
    Why can't we just dream away?
    We're not real, anyway 

    Why don't we just stay this high?
    Pretend we're all that fly
    Why can't we just stay this high?
    We might rule our own sky

    You and I singing solo our very own silly song
    Playing lovers of all edens all life long
  • Stupido Ritmo


    You and I painting rainbows when no rain falls on our wall
    Smelling raindrops on a hilltop as they fall
    You and I laughing loudly with no reasons in our walk
    Chasing sunsets, dancing minuet in the dark


    Why don't we just disappear
    If that could keep us here?

    You and I sharing snow fall and the beach sand in our thoughts
    Writing love words with our whispers in our hearts
    You and I stealing kisses from each other when we fight
    Making wishes on the same star every night

    Why don't we just dream away
    If that could make us stay?
    Why can't we just dream away?
    We're not real, anyway 

    Why don't we just stay this high?
    Pretend we're all that fly
    Why can't we just stay this high?
    We might rule our own sky

    You and I singing solo our very own silly song
    Playing lovers of all edens all life long

3 Januari 2013

Flashback

Flashback melihat apa yang sudah saya lakukan setahun belakangan ini sepertinya menyenangkan. Mengingat cukup banyak tempat yang bisa saya kunjungi tahun ini. Ada sih resolusi tahun lalu yang saya buat di sini. Ya Alhamdulillah beberapa ada yang sudah terlaksana.Tapi ada juga yang belum beruntung.

Awal tahun 2012 lalu saya disibukkan dengan usaha yang baru saya rintis bersama teman seperkuliahan saya, Prita dan Nabilla. Usaha dibidang interior developer yang kami beri nama DECORE. Tak terasa tepat 13 Januari nanti, DECORE berumur 1 tahun :')

Karena usaha ini kami mulai dari nol, jadi kami benar-benar jatuh bangun untuk membesarkan nama DECORE. Seperti anak yang baru lahir, usaha ini kami rawat, kami besarkan dengan kasih sayang, hingga tak terasa sudah hampir setahun usianya. 

Dan karena kesibukan itu, alhasil saya baru bisa meng-update blog kesayangan ini di pertengahan tahun 2012. Selama beberapa bulan yang cukup sibuk tersebut, saya juga "cuti" dari travelling. Hingga akhirnya pada bulan Mei, di saat teman sekantor saya -Prita- sedang sibuk-sibuknya mengadakan syukuran kehamilannya, saya dan partner in crime saya -Nabilla- mencetuskan ide spontan untuk berangkat ke Semarang. Bukan masalah kerjaan, tapi travelling. Kebetulan kawan senasib seperjuangan kami -Dede- datang ke Surabaya dengan pacarnya si Gusmang. Tak lupa partner saya yang lain -Dika- kami ajak serta.

Poin resolusi saya untuk berangkat ke Semarang terlaksana sudah. Selama 4 hari kami putar-putar Semarang. Perasaan saya? Wahh luar biasa senangs sekali! Kota impian saya nih. Dan lagi-lagi (tak bosan-bosannya) saya berjanji bakalan akan segera memposting tulisan Semarang. As soon as possible :p

Di bulan Juni saya dan sekeluarga berangkat ke Jogja. Sebenarnya dalam rangka menemani adik bungsu saya melihat ISI. Saat itu dia terobsesi untuk pindah kuliah ke ISI. Tapi rupanya di kemudian hari, ia memutuskan untuk tetap melanjutkan kuliahnya di Despro ITS hingga selesai. 

Di Jogja ini kami manfaatkan untuk rekreasi sekeluarga. Mumpung bisa pergi bareng-bareng. Sebenarnya minus adik saya yang cowok sih. Dia kebetulan ada acara jadi ndak bisa ikutan. Saya sebagai planner travelling berpengalaman tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Beberapa hari sebelum keberangkatan, saya searching lokasi-lokasi wisata mulai dari kuliner, kesenian, museum sampai dengan belanja oleh-oleh, saya planning sedemikian rupa dan seefisian mungkin *tsahhhh
Jadilah banyak tempat baru yang kami kunjungi. Sehingga tidak berkutat di Malioboro saja, yaa walaupun hari terakhir kami kesana untuk beli oleh-oleh hehehe.. :p

Awal September berangkat lagi untuk travelling. Lokasi kali itu adalah Bali (lagi). Awalnya saya ndak mau ikutan. Saya kepengen ke kota lain. Biar semuanya kebagian gitu lo maksudnya. Tapi rupanya saya gampang terhasut bujuk rayu teman-teman saya. Hahaha -___-
Di Bali kami diterima dengan sangat baik oleh Dika sebagai tuan rumah. Lumayan banyak tempat-tempat baru yang kami datangi. Hingga tak terasa kurang lebih 5 hari kami berada di Bali.

Tiga hari setelah kepulangan dari Bali, saya berangkat lagi ke Jakarta. Kali ini dalam rangka urusan pekerjaan. Saya dan Nabilla hanya 2 hari di Jakarta. Hari terakhir di Jakarta, kami sempat-sempatkan untuk mengunjungi Kota Tua yang tersohor itu walaupun tidak bisa berlama-lama. 

Pada bulan November, secara tidak sengaja saya melihat profile picture salah seorang teman saya. Fotonya adalah poster sebuah acara yang memperingati Hari Pahlawan 10 November yang akan datang. Di poster itu memberitahu bahwa panitia acara membutuhkan volunteer untuk acara tersebut. Ketika saya tanya lebih detail kepada teman saya, rupanya volunteer ini dibutuhkan untuk menjadi guide bagi siswa-siswa sekolah di Surabaya untuk mengenalkan sejarah-sejarah di beberapa lokasi. Dan lokasi yang terpilih adalah gedung-gedung tua. Wahh, tanpa pikir panjang, saya langsung mendaftarkan diri. Kesempatan emas untuk bisa memasuki gedung-gedung tua tersebut sekaligus mengetahui sejarah-sejarahnya. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui! :D

Dari acara tersebut, saya bisa kenal dengan banyak orang baru, komunitas baru seperti Surabaya Juang dan RoodenBurg Surabaya. Dan yang paling utama adalah saya bisa tau sejarah gedung-gedung tua di Surabaya. Saya bakalan memosting cerita tentang acara ini. Walaupun sudah lewat dari acara, tapi tidak ada kata terlambat untuk mengulasnya lagi :)

Dan akhirnya tiba di penghujung tahun, bulan Desember :)
Surprise kecil dari sahabat-sahabat saya ketika ulang tahun saya yang ke 24. Sungguh penutup tahun yang manis. Semoga tahun 2013 ini, resolusi saya yang lain bisa terkabul. Target saya selain karir adalah bisa melanjutkan sekolah lagi. Mohon doanya, teman-teman :)
Dan target lainnya adalah poin nomor 7 yang saya tulis di resolusi tahun 2012 yang lalu :")

Bismillah!
Semoga 3 poin tersebut dan resolusi lainnya bisa tercapai tahun ini. Aminnnnn.... :)

31 Desember 2012

Happy Super Birthday, Dear Tyzha!



Why i called "Super"? Itu karena di usia 24 tahunmu sekarang sudah memasuki tahap super kehidupan. Sudah ndak sendiri, sudah harus ngeladenin suami, sudah ndak bisa se-pecicilan kayak jaman kuliah (yes i know, even you got married, you still pecicilan, lebih pecicilan dan ngalem lebih tepatnya hahahah).

Tyz, anggep aja postingan ini adalah kado buat kamu ya heuheuheu. Secara situ sekarang sudah ikut suami ke Tuban. Jadi saya ndak bisa ngasih kado langsung ke kamu (alesan :p ).
Jarang-jarang nih nulis tentang profil temen di blog sayah. Lucky you, Tyz! =3

***

Tyzha adalah kawan saya sejak bangku kuliah. Sejak kami masih maba (mahasiswa baru). Batin saya pertama kali saat melihat anak ini adalah "ini anak kurus banget sih". Dan memang sampai sekarang pun setelah menikah, badannya tetap segitu-segitu aja -___-

Selera musik kami sama. Suka dengan musik-musik indie. Saya sering banget main, numpang nginep, ngerjain tugas, sampai leyeh-leyeh di kost-nya. Suka pergi ke pameran-pameran seni. Suka mbolang bareng. Intinya, anak ini adalah salah satu partner in crime terbaik saya. Hehehe.



Bukan berarti dengan banyak kesamaan dan kesukaan, kami tidak punya masalah. Yap, kami sempat tidak enakan. Dan itu karena masalah yang "sebenarnya" amat sangat tidak penting. Tapi "masalah" itu Alhamdulillah bisa diatasi. Selesai perkara.

Menurut saya, Tyzha adalah sesosok sahabat yang baik. Dia adalah salah satu penasihat terbaik saya. Walaupun nasihat dan omongannya banyak yang nancep, tapi justru itulah yang saya suka. Rasanya seperti di tampar dari depan, belakang, samping kanan, samping kiri, atas dan bawah. Jleb! Sempurna!
And i don't mind as long as good for me :*

Saya inget banget waktu si Tyzha sama Mas Essa (her husband) lagi pedekate. Saya salah satu "korban" yang terlibat di dalamnya. Hahaha :p

Mulai pertama kali nge-date terselubung (yang saya ndak tau kalo ternyata mereka lagi kasmaran) yang lokasinya di Stadion Gelora 10 Nopember atau yang lebih dikenal dengan Stadion Tambaksari. Saat itu sedang ada event konser dari LA Lights Indiefest dan kami (saya lebih tepatnya) pengen banget ngeliyat Maliq & d'Essentials perform.

Dan mungkin jodoh kali ya mereka, awalnya saya dan Tyzha itu berniat mengunjungi sebuah pameran lukisan di Balai Pemuda. Tetapi, ternyata pamerannya sudah buyar. Jadilah kami luntang-luntung dan tiba-tiba tercetuslah ide ke Stadion Tambaksari. Saat itu, artis yang akan perform adalah Maliq & d'Essentials. Tapi kami keder duluan melihat Slank bakalan tampil dan para Slankers yang cadas-cadas.

Tapi rupanya, si Tyzha ini sebelumnya sudah diajak lebih dulu sama si Mas Essa. Kebetulan saat itu Mas Essa menemani temannya dari Solo -Aar- untuk melihat band Gigi. Saat itu saya (masih tidak peka dengan situasi) melihat sebuah peluang. Sebuah peluang untuk melihat Maliq & d'Essentials ditemani mereka. Setidaknya it will be saved with them.

Dan benar saja, saya baru ngeh setelah di Tambaksari. Ternyata mereka sedang kasmaran. Setelah peristiwa Tambaksari itu, saya selalu ikut dalam cerita mereka. Mulai dari surprise kado ulangtahun, sampai dengan berperan sebagai "sarana penyalur" barang jika salah satu dari mereka ngambek-ngambekan. Hahaha.

Jadi ceritanya, di suatu siang saya dan Tyzha janjian ketemu di sebuah kafe. Tiba-tiba Mas Essa sms dan cerita kalau mereka sedang ndak enakan. Tyzha adalah tipikal cewek yang kalo sudah marahan, telepon gak bakalan di angkat. Hahaha. Saya sudah bisa membayangkan, nanti kalo mereka punya anak, si anak kayaknya bakalan takut sama emaknya daripada bapaknya. Ahahahahha! :)))

Oke, jadi setelah Mas Essa curhat singkat, minta tolonglah dia untuk membelikan bunga untuk Tyzha. Awalnya si Mas Essa minta dibelikan bunga matahari karena Tyzha suka dengan bunga tersebut. Ketika saya ke toko bunga, bunga matahari yang dijual itu segede gaban semua. Tinggi menjulang lengkap dengan potnya. "Gila aja, gue naek motor gimana ngangkatnya", batin saya. Akhirnya bunga matahari batal dan diganti dengan mawar merah sejumlah 19 (saya lupa artinya apa), dan minta dibungkus yang cantik.

Saya inget banget tuh, sewaktu bunga sedang dibungkus di sebuah toko, hujan di luar deras banget. Hujan angin dan mati lampu. Ciamik wes. Saya ini sungguh kurir bunga yang loyalitasnya tinggi. Kalo bukan sahabat sendiri, udah saya tinggal deh (ahahaha, becanda tiizz, ikhlas kok nunggunya waktu itu :D ). 

Dan sewaktu saya sudah sampai di TKP, saya ditengokin banyak orang. Dikira saya mau nemuin pacar kali ya. Bawa-bawa bunga mawar banyak gitu. Tapi ngasihnya ke cewek. Toeot -___-
Yap, bisa disebut saya ini saksi hidup mereka deh. Hahaha. Ehh ndak taunya sekarang sudah jadi suami istri. Wuwuwuwuwu so sweet dehh.. =3

suatu siang saat vakansi bersama di kawasan Ampel

Akad nikah :')

Dear Tyzha,
Selamat menempuh kehidupan baru ya Sayangs :*
Selamat ulangtahun juga.. Keinginan tercapai semua yaa di tahun 2012. Alhamdulillah.. Mulai dari lulus jadi sarjana sampai status istri. Acikiwiiirrrr~

Semoga segera dapat momongan. Semoga keturutan punya 5 anak. Berapapun itu, semoga jadi anak yang sholeh dan sholehah.Semoga usaha craftnya juga makin sukses dan makin terkenal. Semoga jadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrohmah. Amiinn... :)

Happy Super Birthday yaahh Tizaahhhh! :D :D :D



Nb:
*Jangan lupa sahabatnya ini didoain biar cepet nyusul #eaaa